BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Sunday, 29 May 2011

7 Daily Spiritual Productive Habits to Develop

You should aim to develop the following 7 Spiritually Productive activities into habits so that you can hopefully continue benefitting from them throughout your life. I consider these activities as the spiritual ‘bread and butter’ of any ProductiveMuslim. To develop them as habits is the essence of embarking on your journey towards the love of Allah (Subhanahu Wa Ta’ala) and constantly increasing in your eman, inshaAllah:

1) Pray the Sunnah Prayers before and/or after Prayer:
I know it’s easier to just pray the obligatory prayers and rush out of the mosque! However, when we realise the rewards we’re missing from not praying these Sunnah prayers we won’t leave them. Over the years I have learnt there’s only ONE way of getting yourself to pray these Sunnah prayers constantly: Get into the habit of praying them! They’ll soon become part and parcel of your Salah and your Salah will feel incomplete without performing these acts.

2) Remembrance of Allah after Salah:
Again, it’s easy to rush out after Salah due to our busy lives, though if we are honest, how long does it take to recite the supplications after Salah? (The Answer: 5-7 minutes!). If you’re not sure what I’m referring to, you may find the supplications at MakeDua.com. Nowadays you’ll find pocket notebooks/or phone applications with these supplications. Get into the habit of reciting them daily after each Salah to enrich your Salah experience.

3) Morning/Evening Remembrance of Allah:
Step 2 is also included in this habit. There exists a beautiful set of duas/remembrances from the Sunnah of the Prophet Muhammad (peace be upon him) which he used to say before sunrise and after sunset. They are true stress relievers and energy boosters which never fail to make my days and evenings feel blessed. [You can find the duas at MakeDua.com]

4) Night Prayer:
Hamdulillah, during Ramadan we have the wonderful Taraweeh prayers to attend. However, outside of Ramadan there are many opportunities to still obtain the reward of the night prayer. If you’re new to night prayer or you don’t pray it constantly during the year, make sure you try to attend prayers each and every night in congregation at the mosque (particularly brothers), and give yourself a ‘no-excuse’ policy. Develop a habit of praying Tahajjud and continuing to pray them for an entire 30 days; this will set you on better footing to continue with the Night Prayer for the rest of the year inshaAllah.

5) Duha Prayer:
Here’s a Productive Muslim’s top secret to a productive day: 2 rak’ahs known as the Duha prayer which you may pray at anytime after sunrise till before the sun reaches it’s zenith (around 30 minutes before Dhuhr). The reward of this prayer is similar to giving charity on behalf of every bone in your body, and the energy and buzz you feel during the day is amazing.

6) Supplications before you Sleep:
You’ve just had a long day and you’re super tired. You climb into bed and you want to hit the sack… but wait! Before you do, can you give yourself just 10 more minutes to recite the supplications before sleeping? That’s all. Try them and find yourself experiencing the most beautiful sleep ever and waking up for Fajr easily, inshaAllah. For more information on waking up for fajr, constantly, everyday, without fail Read How to Wake up for Fajr.

7) Reciting one hour of Quran each day:
Notice: I said here recite one hour of Quran each day and not one juz’ or one Surah. The amount of Quran you read is not as important as the quality of your understanding. If you spend one hour reciting one verse but understand it fully, that’s more important and beneficial then reciting lots of Quran at break-neck speed yet not understanding a word.

So there you go, 7 spiritually productive habits you can develop throughout the year starting from TODAY!

Penyakit Jiwa Binasakan Batin, Peribadi Manusia

Hati perlu bersih daripada sifat mazmumah dengan hayati ajaran al-Quran. MANUSIA yang waras sering berdepan dengan pelbagai persoalan dalam kehidupan, sama ada ringan atau berat. Sesungguhnya keadaan itu sudah menjadi lumrah hidup seorang manusia. Masalah itu mungkin saja kerana banyak melakukan dosa, kezaliman, kehilangan sesuatu yang disayangi, ditimpa kerugian dalam perniagaan dan sebagainya. Akibatnya manusia mengalami gangguan jiwa seperti resah, gelisah, dukacita, putus asa, ketakutan, kemarahan, kebencian, suka termenung dan tidak lena tidur serta menyalahkan takdir Ilahi. Semua itu memberi kesan hidup tidak selesa dan jiwa tidak bahagia atau tenang. Ada sebilangan besar masyarakat meleraikan kekusutan jiwa tanpa pertimbangan akal sihat dan panduan agama. Contoh bersukaria, menikmati muzik, berkaraoke, menari, mengambil ubat penenang, mengambil dadah, minum arak bahkan ada yang sanggup membunuh diri. Ketenteraman yang diperoleh cara demikian sesungguhnya tak lebih hanyalah bersifat sementara dan sekadar anggapan belaka.
Bagi orang beriman, walau sebesar mana persoalan hidup yang melanda pasti akan dihadapi dengan sabar, tabah dan jiwa yang tenang. Lantaran, dengan memiliki ketenangan jiwa menyebabkan seseorang itu dapat menjalani kehidupan dengan teratur dan sewajarnya mengikut kehendak syariat Islam serta mampu beribadat dengan sempurna, melaksanakan tanggungjawabnya terhadap keluarga atau masyarakat. Kesimpulannya segala tindak-tanduk yang dilakukan mengikut rentak jiwa. Hal ini pernah disentuh Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya bermaksud:

"Sesungguhnya dalam diri manusia itu ada seketul daging, jika baik daging itu, baiklah manusia. Jika jahat daging itu maka jahatlah manusia. Ketahuilah itulah hati" (HR Bukhari dan Muslim).

Bagi meraih ketenangan hakiki, perlu seseorang itu mengamalkan cara yang ditunjukkan oleh agama. Sesungguhnya berpegang kukuh kepada agama sangat penting lantaran menjadikan seseorang itu selalu berada dalam keadaan tenang. Kita sangat tertarik dengan ungkapan Ahli Falsafah dan Psikologi Amerika Syarikat, William James, yang berkata "Iman, adalah ubat paling mujarab dalam menyembuhkan tekanan. Antara kita dan Tuhan ada hubungan yang tidak terputus. Jika kita meletakkan diri di bawah naungan kekuasaan Tuhan dan berserah diri kepada-Nya, semua harapan dan angan-angan kita akan wujud. Pada masa sama, gelombang kesulitan hidup dan tekanan kehidupan tidak akan mampu menggoyahkan ketenangan dan kestabilan jiwa manusia yang memiliki iman kepada Tuhan".

Pendapat beliau selari dengan pandangan Dr Yusof Al-Qardhawi dalam bukunya Al-Iman Walayah yang menyebut, "Ilmu, kesihatan, kepuasan nafsu, kekuatan, harta kekayaan tidak dapat menjana kebahagiaan. Hanya iman kepada Allah, hari akhirat dapat menjana kebahagiaan dan ketenangan" Begitulah yang diajarkan Islam bahawa seseorang yang berpegang dengan agama secara benar bermakna selalu ingat kepada Allah SWT dalam pelbagai kesempatan atau peluang baik duduk, berdiri mahu pun berbaring, yang akhirnya membuahkan ketenangan jiwa. Allah SWT berfirman yang bermaksud:

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram" (Surah Ar-Ra'd: 28)

Dalam ayat lain kita menemui penjelasan Allah mengenai orang yang benar-benar beriman tetap memperoleh keamanan dan ketenteraman.

"Orang-orang yang beriman dari tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (Surah al-An'am: 82)

Kita juga perlu yakin dengan pertolongan Allah. Sebab seperti yang kita ketahui bahawa dalam usaha untuk mendapatkan sesuatu yang diimpikan sering kali terpaksa menghadapi masalah dan rintangan. Ini semua boleh menimbulkan rasa putus asa, takut dan kebimbangan. Bila ada keyakinan bahawa Allah akan menolong orang beriman (baik orang-orang terdahulu, sekarang dan akan datang) yang bersungguh-sungguh berusaha dan berjuang, menyebabkan jiwa menjadi lapang dan tenteram.

Firman Allah SWT bermaksud:
"Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai khabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram kerananya dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Surah Al-Anfal: 10) .

Senada dengan itu di lain ayat Allah menjelaskan:

"Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu kerana-Nya dan kemenanganmu itu hanyalah daripada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surah Ali Imran: 126)

Islam juga mengajar kita agar selalu bersyukur kepada Allah. Nikmat yang Allah anugerah kepada kita amatlah banyak sehingga tidak terhitung jumlahnya. Kendatipun nikmat atau rezeki itu kecil, tetap diterima dengan penuh reda dan kesyukuran menyebabkan jiwa sentiasa lapang. Selanjutnya dia yakin bahawa Allah akan menambah nikmat itu sebagaimana dapat kita fahami daripada kenyataan al-Quran yang bermaksud:

"...Demi sesungguhnya jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambah nikmat-Ku kepadamu, demi sesungguhnya jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azab-Ku amatlah keras" (Surah Ibrahim: 71)

Namun jika tidak ingin bersyukur, tatkala mendapat rezeki sedikit pasti akan terus menjadi resah, memberontak, putus asa dan dengki terhadap orang yang mendapat rezeki lebih daripadanya. Hal ini boleh kita lihat ayat suci yang bermaksud:

"Dan Allah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Kerana itu Allah merasakan kepada mereka pakaian (meliputi tubuh badan mereka), kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat" (Surah An-Nahl: 162)

Sesungguhnya apabila jiwa tidak tenang bermakna jiwa sudah dihinggapi penyakit yang pasti akan membinasakan keperibadian seseorang itu. Lantaran penyakit itu mencerminkan hanya keburukan saja sebagaimana dijelaskan Dr Hamzah Ya'qub dalam bukunya Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin, bahawa sifat buruk dan merosak dalam batin manusia yang mengganggu kebahagiaan, merintangi peribadi daripada memperoleh keredaan Allah dan sikap mental yang cenderung mendorong peribadi melakukan perbuatan buruk dan merosak" Seandainya penyakit jiwa menguasai diri mengakibatkan ghairah beramal jadi melemah, semangat untuk maju dalam kebaikan terpadam, malas untuk bekerja, lalai mengingat Allah, sukar menerima kebenaran dan tumpul daya fikir.

Allah SWT menjelaskan:

"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Kerana sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." ( Surah Al-Hajj: 46)

Oleh yang demikian, sebagai seorang Islam yang mahukan kebahagiaan dan ketenangan sebenarnya dan berpanjangan, hendaklah sepanjang hidupnya membersihkan hati daripada sifat mazmumah dengan cara menghayati ajaran al-Quran dalam kehidupan serta meneladani keperibadian Rasulullah secara istiqamah. Dengan itu, orang Islam akan jadi lebih terpuji, produktif dan cemerlang.



Oleh Mohd Adid Ab Rahman

Saturday, 28 May 2011

Islamik Kah Perbankan Islamik?

Banyak maklumat baru yang saya perolehi dari seminar Riba' pada awal bulan lepas. Sebelum ini saya telah pun menulis artikel mengapa saya kata pinjaman perbankan Islam haram, dan dari komen-komen oleh pembaca, dapat di lihat pelbagai reaksi yang menyokong dan menentang. Apa yang membakar lagi semangat dan meneguhkan lagi pendirian saya ini (pembiayaan bank Islam haram) adalah apabila mendengar penceramah pertama dipersidangan tersebut Dr. Umar Vadillio dengan lantangnya menyatakan bahawa perbankan islamik itu "double" haram. Diikuti pula oleh Sheikh Imran Hosein yang bersependapat sedemikian. Pada hari kedua pula Dr. Aziuddin dari KUIS pula menyatakan perbankan islam "triple" haram. Disini saya ingin berkongsi maklumat dan mengajak rakan-rakan merenung kembali berfikir samada islamikkah perbankan islamik itu dengan amalan-amalan perniagaan yang mereka lakukan dan juga mengapa tokoh-tokoh dipersidangan riba' ini menyatakan sedemikian.

Perbankan Islam Menghalalkan Apa Yang Haram.

Didalam artikel saya sebelum ini, saya sudah pun memberikan sebab mengapa saya kata pinjaman perbankan islam itu haram, jika anda adalah pembaca baru dilaman blog ini, sila baca artikel tersebut beserta komen-komennya terlebih dahulu. Dr. Umar Vadillio dengan lantangnya menyatakan perbankan islam adalah dua kali (double) haram dan patut ditutup, kerana apa? kerana menurut beliau perbankan Islam telah menghalalkan apa yang haram iaitu mengenakan riba' dan mengaburinya dengan proses jual beli. Apa yang perbankan islam lakukan adalah menukarkan nama sahaja keatas urus niaga tetapi sebenarnya ianya adalah aktiviti yang sama iaitu riba' dan penindasan.

Saya ingin menarik perhatian rakan-rakan sekalian kepada satu hadis Nabi SAW yang menyatakan bahawa diakhir zaman dimana pengaruh dajjal telah bermaharaja lela, apa yang kelihatan amat berbeza dari realiti sebenar, baginda mengumpamakannya dengan air sungai yang sejuk dan juga api, apa yang kelihatan sejuk seperti air sungai adalah api yang panas dan sebaliknya, jadi mungkin apa yang dilihat suatu yang positif dari perbankan islam ini adalah sebenarnya api yang sedang membakar umat Islam yang terpengaruh dengannya? Tidak cukup hanya dengan mata fizikal dan ilmu dunia sahaja untuk melihat realiti sebenar di akhir zaman ini, perlu ada usaha lain untuk melihatnya.

Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebahagian dari apa yang kamu sayangi. Dan sesuatu apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Surah Al Imran 3:92

Perbankan Islam Juga "Mencipta" Wang Tanpa Sandaran.

Sebelum ke persidangan riba' yang lepas saya menganggap bahawa hanya wang deposit penyimpan didalam perbankan islamik sahaja yang akan dipinjamkan kepada peminjam, contohnya jika jumlah keseluruhan deposit penyimpan adalah 1 juta ringgit, maka hanya sejumah itu sahaja yang akan digunakan untuk membiayai pembelian untuk peminjam, akan tetapi apabila mendengar penjelasan dari pembentangan kertas kerja oleh beberapa panel dipersidangan ini, maka tiadalah lagi keraguan akan ketidak islamiknya perbankan islam itu pada diri saya. Didalam buku terbaru Real Money karangan Prof Ahamed Kameel Mydin Meera dari UIA juga jelas membangkitkan perihal aktiviti perbankan islam ini yang mana jelas bersekongkol dengan perbankan konvensional merosakkan keseluruhan masyarakat, hanya sebahagian kecil sahaja yang mendapat manafaat darinya iaitu pekerja dan pemegang saham bank tersebut (dan juga kerajaan dari cukai yang diperolehi). Asas perbankan konvensional dan islamik adalah sama iaitu mencipta wang baru menerusi pinjaman melalui sistem pecahan simpanan (fractional reserve sistem), perbezaannya adalah perbankan Islam menggunakan wang yang baru dicipta itu tadi untuk tujuan yang kononnya berlandaskan "shariah", majoritinya adalah melalui konsep ijarah yang mana pinjaman diberikan menerusi proses membelikan sesuatu aset bagi pihak peminjam dan menjualkannya kembali dengan harga yang berlipat kali ganda.

Lihat contoh berikut, katakan terdapat 2 rumah yang sama harganya katakanlah RM300,000 dibiayai dengan pinjaman dan pembiayaan, iaitu satu secara konvensional dan satu lagi secara "islamik" untuk tempoh 20 tahun, katakanlah kadar faedah adalah 6% yang mana digunakan terus oleh bank konvensional tetapi bagi perbankan islamik ianya juga akan digunakan sebagai asas perkiraan harga rumah yang akan dijual semula kepada peminjam. Kedua-dua bank islamik dan konvensional akan "mencipta" wang sebanyak RM300,000 melalui kira-kira perakaunan menggunakan sistem pecahan simpanan (fractional reserve system) dan wang yang baru dicipta ini bukanlah deposit dari penyimpan. Bank konvensional akan meminjamkan wang tersebut manakala islamik bank pula akan membeli rumah dan menjualkannya semula kepada peminjam

Bayaran bulanan bagi kedua-duanya adalah RM2,149.29 (untuk memudahkan perkiraan, selalunya bayaran bulanan perbankan islamik lebih mahal dari konvensional) untuk selama 20 tahun. Perbankan Islam akan meletakkan RM515,830.59 sebagai harga jualan rumah tersebut kepada peminjam. Perbezaan sebanyak RM215,830.59 dikira sebagai bunga bagi perbankan konvensional dan keuntungan bagi perbankan islamik. Kedua-dua bank mencipta RM300,000 dengan hanya kira-kira perakunan akan tetapi keuntungan bagi pihak perbankan islamik telah pun tersedia. Supaya anda lebih memahaminya lagi mari kita lihat baki pinjaman selepas 10 tahun.

Menerusi perbankan konvensional baki selepas 10 tahun adalah sebanyak RM193,594.77 manakala bagi pembiayaan islamik pula adalah RM257,914.80. Disini dapat dilihat akan perbezaan baki yang mana bagi perbankan islamik lebih banyak dari perbankan konvensional sebanyak RM64,320.03. Dan jika peminjam mahu menjelaskan pembiayaan tersebut pada masa tersebut, peminjam perbankan terpaksa membayar harga yang lebih kecuali mendapat ihsan diskaun dari pihak bank. Mungkin sebab itu jugalah hampir kesemua perbankan konvensional berlumba-lumba membuka bahagian perbankan islamik kerana mereka tahu ianya lebih memberi dan menjamin keuntungan. Mungkin ada yang berkata sekurang-kurangnya jika BLR naik peminjam perbankan islamik akan terjamin, ini tidak seperti yang disangkakan sebenarnya kerana keuntungan perbankan islamik sudah pun terjamin jika kita lihat dari perkiraan diatas. Perbankan islamik sebenarnya lebih menjaga kebajikan mereka sendiri berbanding peminjam dan ini yang gagal dilihat oleh kebanyakan masyarakat.

Masaalah terbesar sekarang ini sebenarnya lebih terletak kepada bagaimana wang pembiayaan itu yang "dicipta" "out of thin air" iaitu atas angin dan tidak berdasarkan suatu yang punyai nilai, hanya bersandarkan kepada janji peminjam untuk membayar balik. Jika RM1000 dipinjamkan pada kadar 10% setahun, selepas setahun RM100 yang dikenakan dianggap riba', bagaimana pula dengan RM1000 yang dicipta tanpa bersandarkan suatu yang bernilai dan secara automatiknya memberikan kuasa membeli tanpa risiko 10 kali lebih banyak dari riba' itu sendiri, bukankah itu riba' yang lebih besar? Ini yang wajib difikirkan semula oleh seluruh masyarakat lebih-lebih lagi oleh cerdik pandai islam yang menyokong perbankan islamik itu sendiri.

Pada pendapat saya, syariahnya perbankan islam itu hanya dilihat dari sudut hubungan antara pelabur dan juga pihak bank sahaja, manakala kebajikan pihak peminjam mahupun masyarakat samada sedikit ataupun tidak langsung diambil kira. Tidak kiralah samada bank islam membeli rumah dan menjualnya semula dengan harga yang lebih tinggi kepada peminjam ataupun bank konvensional meletakkan pembayaran pinjaman beserta faedah, dalam kedua-dua kes jumlah wang yang terpaksa dipulangkan kembali kepada bank oleh peminjam akan senantiasa tidak mencukupi kerana ianya melebihi jumlah wang yang dikeluarkan pada asalnya. Akibat dari ini masyarakat terpaksa bersaing sesama sendiri untuk mengumpul sejumlah wang yang mungkin bagi membayar balik pinjaman, contohnya jika 100 ribu dipinjamkan dan 110 ribu terpaksa dipulangkan, dari mana datangnya 10 ribu itu tadi? Ianya tidak wujud kecuali lebih banyak lagi pinjaman diberikan yang mana melaluinya wang baru akan dicipta. Apa terjadi apabila masyarakat terpaksa bersaing untuk mengaut sebanyak mana wang yang mungkin untuk membayar balik hutang yang berganda banyaknya dari jumlah asal? Masyarakat akan menjadi lebih pentingkan diri sendiri, kedua ibu bapa terpaksa keluar bekerja, anak-anak semakin terabai dan pelbagai lagi masaalah sosial. Pastinya anda seorang yang buta matanya jika tidak nampak keadaan ini berlaku kepada masyarakat kita hari ini? Bandingkan kemajuan masyarakat islam Malaysia khasnya dan sedunia amnya selama berbelas tahun perbankan islamik ini bertapak, adakah masyarakat islam semakin maju? Ya semakin maju meninggalkan Islam dan bukan sebaliknya.

Bagaimana pula dengan inflasi yang mengurangkan kuasa membeli masyarakat dengan penciptaan wang tanpa sandaran yang dilakukan oleh perbankan islamik ini? Bukankah itu satu penganiayaan dan penindasan kepada semua golongan masyarakat baik Islam atau tidak dan golongan manakah yang paling teruk merasakan bahana inflasi itu? Tidak lain tidak bukan mereka yang kurang bernasib baik terutamanya golongan miskin. Bagi yang berjawatan, berpangkat, punyai kerja tetap dan naik gaji saban tahun, itu tidak jadi masaalah. Sebab itulah boleh saya katakan kebanyakan mereka yang beriya-iya menyokong perbankan islamik ini adalah muslim dari golongan sebegini. Mereka tidak dapat melihat kesan sebenar tindakan institusi perbankan baik islamik atau konvensional ini kepada keseluruhan masyarakat. Maaf saya katakan mereka ini seolah-olah sudah dibutakan oleh keselesaan mereka sendiri.

Perbankan Itu Bukanlah Satu Perniagaan

Jika kita lihat pada pandangan kebanyakan masyarakat moden hari ini, rata-rata menganggap sistem perbankan itu adalah satu perniagaan tetapi tidak pada pendapat saya, ini adalah kerana dari penjelasan diatas tadi secara jelas ianya adalah institusi riba' yang di"halal"kan, oleh siapa?, oleh pemerintah hasil dari benih yang disemai oleh penjajah British sebelum memberi kemerdekaan fizikal, walaupun penjajahan kolonial itu telah lama berlalu namun sebenarnya negara dan rakyat masih dijajah secara halus, baik dari segi ekonomi dan juga jajahan minda. Walaupun ada contoh yang menyatakan terdapat individu Islam yang bertindak sebagai bank pada awal zaman kebangkitan Islam, persoalan yang patut difikirkan adalah adakah ketika itu wang kertas yang digunakan, dan juga adakah penciptaan wang baru menerusi kira-kira perakaunan diamalkan? Sudah tentunya tidak, jadi tidak bolehlah contoh tersebut diberikan untuk asas melabelkan bank sebagai satu perniagaan.

Perniagaan melibatkan risiko antara semua pihak, ini amat penting kerana dari sudut Islam itu sendiri, apa jua tindak-tanduk kita didunia ini mestilah menjaga kepentingan semua umat manusia baik secara langsung atau tidak dan inilah asas kepada tujuan ibadah dan juga perundangan islam. Adakah wujud risiko didalam sistem perbankan? Apabila disebut risiko didalam perniagaan bank ini, selalunya dirujuk risiko antara pihak bank dan juga pihak pelabur, pihak pelabur menanggung risiko akan keupayaan bank untuk memastikan keuntungan dari pelaburan mereka, bagaimana pula dengan risiko kepada peminjam? Ambil contoh projek perumahan terbengkalai yang risikonya hanya ditanggung oleh peminjam. Walaupun pemaju gulung tikar, bank akan tetap cuba memaksa si peminjam agar melunaskan wang yang telah pihak bank keluarkan (walaupun ia tidak wujud secara nyata, hanya kira-kira akaun sahaja). Jadi nampaknya tiada risiko bagi pihak bank dalam hubungannya dengan peminjam. Maka apabila risiko hanya ditanggung oleh satu pihak, kekayaan hanya akan mengalir kesatu arah sahaja. Pihak bank akan semakin kaya dan peminjam akan semakin miskin dan ini bukanlah perniagaan, buktinya lihatlah betapa gahnya bangunan milik institusi perbankan pada hari ini.

Salah satu sifat riba' adalah terciptanya keupayaan membeli (purchasing power) atau nilai tanpa mengambil apa jua risiko, maka apabila bank mendapat keuntungan dengan peminjam membayar balik walaupun barang tidak sampai ke peminjam contohnya kes rumah terbengkalai, ternyatalah bank mendapat keupayaan membeli (keuntungan) atau nilai tanpa risiko, maka ianya adalah riba'. Jadi proses contohnya rumah dibelikan oleh bank islam dan dijual semula pada peminjam hanyalah helah semata-mata, tujuannya tetap sama dengan bank konvensional iaitu mendapatkan "purchasing power" atau nilai tanpa mempunyai risiko ataupun risikonya dikurangkan seminimum mungkin. Hanya Allah SW sahaja yang boleh mencipta sesuatu dari sesuatu yang tidak wujud (create something out of nothing), bank mencipta wang menerusi kira-kira perakaunan iaitu menerusi pinjaman, bank tanpa mereka sedari (atau mungkin sedar) juga telah bertindak sebagai tuhan.

Tanpa sedar kebanyakan manusia yang meminjam dibank baik konvensional atau islamik menjadi hamba kepada mereka, manusia sepatutnya menjadi hamba hanya kepada Allah SW. Sistem ekonomi ini adalah perhambaan baru yang tidak kelihatan dikalangan masyarakat, pertamanya kerana sejak dari awal lagi ianya dianggap suatu yang normal (norma kehidupan), kedua kerana melalui sistem ekonomi ini banyak kesenangan dan kemewahan (nikmat dunia) dapat dikecapi dengan cepat contohnya tanpa perlu menunggu lama mengumpul wang manusia boleh mendapatkan barangan diluar kemampuan tunai dan ketiganya kerana tiada atau kurang pendedahan maklumat mengenai sistem perbankan itu sendiri.

Manusia yang diperhambakan ini rata-rata terpaksa bekerja dengan lebih keras untuk mengeluarkan produk atau perkhidmatan, akan tetapi mereka yang bekerja keras itu tadi bukanlah sebenarnya penerima utama usaha mereka tadi tetapi sebaliknya pihak yang punyai keistimewaan memberikan pinjaman, pihak yang mencipta wang tanpa sandaran iaitu pihak bank. Amat malang sekali perkataan islamik pada bank tidak menggambarkan semangat islam sebenarnya berteraskan keadilan kepada semua umat manusia. Selama berbelas tahun perbankan Islam bertapak di negara kita adakah kualiti kehidupan masyarakat khasnya umat Islam semakin baik terutamanya iman? Kehidupan umat manusia akhir zaman hari ini kebanyakannya telah terjerumus kearah mengejar materialistik, ini jelas kelihatan dengan kecenderungan untuk mengejar wang dan harta, persaingan mendapatkan pekerjaan ataupun keuntungan dalam perniagaan, semua ini pula menjurus kepada masyarakat yang semakin tidak bermoral, semakin nipis iman, semakin kurang masa untuk keluarga, saudara-mara dan masyarakat yang mana ini pula menghasilkan generasi baru yang semakin hilang nilai moral, lebih terpengaruh dengan gejala luar dan sebagainya.

Ramai yang memberi alasan bagaimana bank boleh berfungsi jika mereka tidak mengambil keuntungan dari usaha mereka? Bagaimana hendak membayar gaji pekerja dan juga memberi pulangan kepada penyimpan? Untuk menjawabnya saya ajukan soalan, adakah bayaran yang dikenakan oleh bank setampil dengan usaha yang mereka lakukan? Adakah dengan hanya mencipta wang menerusi kira-kira akaun mereka berhak mengenakan bayaran berganda dari pinjaman yang diberikan? Pada pendapat saya perkhidmatan kesihatan yang sepatutnya diswastakan sepenuhnya dan khidmat bank dikendalikan oleh kerajaan dengan mengenakan bayaran perkhidmatan yang paling minimum. Hampir kesemua penyakit masyarakat moden hari ini datangnya dari stress, dan boleh dikatakan hampir kesemua stress ini datangnya dari hal berkenaan dengan wang baik secara langsung atau tidak, jadi sekiranya punca stress ini diminimakan bukankah punca penyakit dapat dikurangkan? Ini menghasilkan masyarakat yang lebih sihat. Apabila manusia bebas dan tidak diperhambakan maka akan lahirlah generasi yang lebih cemerlang. Kebebasan adalah asas kepada kreativiti dan kreativiti pula asas kepada penghasilan idea dan produk baru yang mana akan kembali semula memberi manafaat kepada manusia itu sendiri.

Melalui sistem perbankan ini juga kekayaan dengan mudahnya berpindah dari pihak yang mempunyai keistimewaan atau kuasa untuk mencipta wang tanpa perlu membanting tulang. Lihat senario ini, apabila peminjam tidak mampu membayar balik pinjaman contohnya pinjaman rumah, apa tindakan yang akan pihak bank lakukan? Mereka akan mendapatkan perintah mahkamah untuk merampas rumah tersebut. Bank yang pada asalnya mencipta wang hanya melalui kira-kira akaun akhirnya menjadi pemilik harta yang sebenar, bukan lagi wang yang bersandarkan hutang. Apabila rumah itu dilelong, bank kemudiannya akan punyai wang nyata iaitu tidak dicipta melalui hutang. Amat malang lagi jika rumah yang dilelong tidak cukup membiayai baki hutang, jika peminjam punyai tanah, tanah itu juga akan berpindah milik kepada bank akhirnya. Ini bermakna bank dengan hanya menaip data kira-kira didalam sistem akaun bank lama kelamaan akan menjadi "raja" yang berkuasa. Menerusi mekanisma perbankan inilah kekayaan berpindah secara bathil, penipuan menerusi muslihat yang tidak kelihatan oleh pemikiran yang tenggelam dengan hiburan muzik, filem, permainan video, facebook dan sebagainya.

Kesan buruk sistem perbankan moden hari ini tidak dapat dilihat hanya dari sudut yang sempit, hanya kerana memiliki pekerjaan yang tetap, gaji yang melayakkan untuk mendapat pinjaman, manusia merasakan tiada salahnya membayar sejumlah wang setiap bulan sebagai balasan kepada perbankan Islam yang telah membelikan rumah atau kereta bagi pihak mereka dan menjualkannya semula dengan harga yang lebih tinggi.

Kesan buruknya harus dilihat dari sudut keseluruhan masyarakat. Pertamanya apabila kita meminjam dari bank, nilai wang akan semakin cair, dan ini yang dinamakan inflasi, keduanya jumlah wang yang terpaksa dipulangkan kembali kepada bank sentiasa melebihi jumlah wang yang telah dikeluarkan maka wujudlah persaingan, didalam sistem kewangan sekarang ini hidup manusia ibarat permainan kerusi musik, apabila musik berhenti (ekonomi jatuh) pasti akan ada yang kecundang (bankrap). Sebab itulah Allah sw mengishtiharkan perang terhadap riba' kerana kesannya adalah kepada keseluruham masyarakat dan bukan kepada satu individu sehaja.

Kemiskinan, segalanya berkemungkinan membawa kepada kekufuran. (Baihaqi dan Tabarani)

Lihatlah kesan buruk yang diberikan oleh inflasi, jika beberapa tahun dahulu simiskin boleh membeli sebungkus nasi lemak dengan 50 sen, sekarang terpaksa membayarnya dengan seringgit, bukankah ini satu penindasan, dan rata-rata simiskin adalah mereka yang paling teraniaya didalam sistem ekonomi moden ini kerana kurangnya upaya mereka untuk meminta gaji yang lebih tinggi (tiada kelayakan sijil, ijazah dll.) apatah lagi mendapatkan pinjaman dari bank (contohnya tiada slip gaji atau penyata bank). Simiskin ibarat sudah jatuh ditimpa tangga, sudahlah sedikit wang yang ada pada mereka nilainya semakin menurun, mereka juga tersepit antara persaingan pelanggan-pelanggan bank yang bersaing untuk mengaut wang sebanyak mungkin untuk membayar balik pinjaman kerana jumlah wang yang ada dalam kitaran sentiasa kurang dari wang yang terpaksa dibayar balik kepada bank. Apabila mereka sedar mereka semakin kalah dan semakin miskin, maka jalan akhirnya adalah mendapatkan wang tersebut secara paksa iaitu mencuri. Secara tidak langsung masyarakat sendiri yang mencipta pencuri, lihatlah kebanyakan kawasan perumahan sekarang ini terpaksa dikawal, siapa yang harus disalahkan jika bukan diri sendiri? Fikir-fikirkanlah pula rumah yang terpaksa dikawal itu adakah rumah yang dibeli secara tunai atau secara pinjaman? Tiada bezanya dengan penjara, cuba anda fikir-fikirkan, penjara dihuni oleh pencuri dan diluar penjara adalah orang yang dicuri atau teraniaya, didalam kawasan perumahan berpagar dan dikawal, didalamnya juga adalah "pencuri" dan diluar pula adalah golongan yang teraniaya. "Pencuri" yang saya maksudkan adalah mereka yang bersubahat bersama-sama dengan pihak bank menurunkan nilai wang kepada seluruh masyarakat dan yang paling menerima kesannya adalah simiskin menerusi penciptaan wang melalui pinjaman (fractional reserve system) dan juga menyebabkan persaingan didalam masyarakat berlumba merebut wang yang tidak pernah cukup dalam masyarakat,jadi siapa pencuri yang lebih besar sebenarnya?

Hanya riba' sahaja dosa yang Allah SW mengishtiharkan perang terhadapnya dan perumpamaan besarnya dosa riba' walaupun yang paling kecil adalah umpama berzina dengan ibu sendiri, kerana apa? Kerana ianya melibatkan seluruh masyarakat dan bukan hanya bank dan peminjam sahaja. Jadi melihat kepada kesan buruk secara halus kepada masyarakat yang dilakukan oleh perbankan Islam ini maka tiada bezanya dengan perbankan konvensional yang mengamalkan riba' secara terbuka.

Tiada yang percuma didunia ini, setiap nikmat yang dinikmati ada harga yang terpaksa dibayar, salah satu falsafah fizik kuantum adalah manusia itu sendiri mencipta realiti kehidupannya, malangnya rata-rata umat manusia tanpa sedar mencipta realiti kehidupan mereka itu dan menyalahkan insan lain apabila musibah berlaku kepada mereka, contohnya pencuri yang jelas kelihatan sedangkan mereka tanpa sedar dan secara halus mencuri nilai dari manusia lain dengan membantu menambahkan inflasi dan juga persaingan. Etika sebenar ekonomi Islam adalah kekayaan beralih dari golongan kaya kepada golongan miskin melalui zakat dan sedekah akan tetapi menerusi sistem ekonomi moden yang berasaskan riba ini jelas menyebabkan keadaan sebaliknya, dan ini jelas juga berlaku dalam perbankan islamik.

Tidak guna mengemukakan masaalah tanpa cuba memberikan jalan penyelesaiannya, didalam dunia moden yang telah diselimuti oleh riba' ini teramat sukar untuk kita semua lari darinya, inilah yang digambarkan oleh hadis Nabi SAW akan debu atau wap riba' yang akan menimpa seluruh umat manusia. Pada pendapat saya langkah pertamanya adalah seluruh umat Islam wajib berusaha untuk kembali kepada penggunaan wang sunnah, iaitu wang yang punyai nilai sebenar (intrinsic value) seperti logam bernilai atau komoditi atau paling tidak pun wang kertas itu sendiri disandarkan dengan suatu yang bernilai. Penggunaan wang contohnya emas ini adalah untuk urusan harian dan bukan untuk simpanan semata-mata seperti yang dilakukan oleh masyarakat hari hari ini yang mana tentulah mereka yang bernasib baik dan mempunyai wang sahaja yang mampu membelinya. Apa guna menyimpan emas jika tiap ketika kita takut akan kehilangannya, bukankah berusaha mencapai keadilan ekonomi kepada seluruh masyarakat itu lebih patut diutamakan, barulah tidur malam lebih lena walaupun tingkap terbuka luas. Keduanya pula adalah mengembalikan kuasa mencipta wang kepada masyarakat dan bukan kepada sesetengah pihak sahaja iaitu bank, contohnya jika petani menanam padi, beras yang dihasilkan boleh menjadi wang baru samaada ianya ditukarkan dengan emas atau wang yang disandarkan dengan emas keluaran bank yang dikendalikan oleh kerajaan atau sebagai kemasukan debit didalam akaun kewangannya yang mana ianya akan digunakan oleh petani itu tadi untuk membeli barangan lain contohnya ayam dari penternak pula.

Persoalan seterusnya adalah adakah kerajaan yang memimpin kita pada hari ini berminat untuk melakukan perubahan kearah keadilan sosial ini? Pada pendapat saya mereka tidak berminat untuk melakukannya, kerana apa? Kerana saya tidak nampak pemimpin yang ada sekarang ini "nawaitu" adalah lillahita'ala. Rata-rata insan yang saya jumpa dan beriya-iya menyokong kepimpinan sekarang ini juga adalah mereka yang mendapat kesenangan dunia dengan sokongan mereka terhadap pemimpin mereka. Hanya pemimpin yang takutkan Allah SW sahaja yang mampu melakukannya dan bukan pemimpin yang takutkan isteri. Jika untuk memimpin isteri menjadi lebih soleh contohnya dengan bertudung pun tidak mampu, janganlah pula kita nak harapkan pemimpin sebegini untuk melakukan suatu yang lebih besar lagi kearah menyelamatkan ummah. Hanya sistem khilafah sahaja jalan penyelesaiannya. Demokrasi? Samalah juga dengan sistem perbankan ciptaan barat yang penuh penipuan, tiada demokrasi dizaman moden ini sebenarnya, yang ada hanyalah manipulasi menerusi kawalan minda dengan pengawalan media, pendidikan dan sebagainya.

Adakah Perubahan Boleh Dijalankan Dengan Mendadak?

Tiada tamadun yang terbina dalam masa setahun dua akan tetapi yang pasti semuanya bermula dari minda, dari kesedaran akan kebathilan dan juga keinginan yang kuat untuk berubah, moga insyaallah adalah hendaknya generasi baru yang akan sedar dan mampu melihat dengan mata keimanan dan apabila mereka ini bangkit menjadi pemimpin satu hari nanti insyaallah akan mampu mengubah dengan tangannya. Jadi buat masa ini apa yang boleh dilakukan? Tidak mampu dengan tangan maka dengan bersuara dan menyatakan ketidak setujuan dengannya, dan inilah yang cuba saya lakukan dengan artikel saya ini disamping berusaha untuk memberi kesedaran. Harap rakan-rakan juga berusaha bersama menjadi agen perubahan dengan menjadi penyebar ilmu, paling tidak pun ungkitkan perbincangan mengenai perkara ini kepada rakan-rakan yang lain bila ada kelapangan untuk berbual, bukankah tindakan anda itu ibarat menanam saham akhirat berbanding dengan borak kosong.

Saya juga telah pun bertaubat tidak akan lagi meminjam dari bank dan meminimakan sebanyak mungkin wang yang disimpan didalam bank kerana wang yang disimpan itu juga akan digunakan oleh pihak bank sebagai syarat simpanan (reserve requirement) untuk memberi pinjaman baru, ini secara tidak langsung bersubahat dengan pihak bank mencipta wang baru dan menambahkan lagi inflasi, beban yang kembali kepada diri saya sendiri dan juga kepada seluruh masyarakat. Mungkin akan ada yang merungut bagaimana nak hidup dizaman moden ini jika tidak meminjam? Saya sudahpun memberi contoh menyewa dan kemudiannya membeli secara tunai rumah dalam artikel saya yang lepas.

Bagaimana dengan kenderaan? Nampaknya terpaksalah bersusah-susah dahulu dengan pengangkutan awam sebelum bersenang-senang kemudian akan tetapi dengan cara generasi baru yang rata-rata dibesarkan dengan kesenangan mudah (contohnya mainan semuanya tersedia dialam kotak dan tidak seperti generasi dahulu yang membuat mainan sendiri) dan kehidupan yang diselimuti kemewahan, maka tepuk dada, guna frontal lobe dan tanyalah iman.

Hidup didunia ini ibarat kita berjalan kaki pulang kerumah, perjalanan yang jauh dan sukar dengan panas terik dan hujan lebat. Sedang kita berjalan itu ada insan yang mahu memberi kemudahan menumpangkan kita dengan kenderaannya akan tetapi dengan syarat iaitu sebahagian dari kawasan rumah kita mesti diserahkan kepadanya. Kerana tidak sanggup bersusah payah maka kita pun bersetuju, lepas beberapa ketika tuan punya kenderaan sampai ke destinasi akan tetapi kita masih belum sampai dan kembali semula berjalan, keadaan yang sama berulang kembali dengan ada insan lain yang mahu menumpangkan. Lama kelamaan kerana kita mahukan kesenangan dan tidak mahu bersusah-payah, akhirnya rumah kita akan tergadai. Perbuatan berjalan kaki itu adalah kehidupan kita didunia ini, rumah yang dimaksudkan itu adalah syurga yang telah dijanjikan oleh Allah SW bagi mereka yang kekal mengikut perintahNya dan insan yang memberi tumpang itu adalah syaitan yang memperdayakan manusia.

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati dan bahawasanya pada hari kiamat sahajalah Akan disempurnakan balasan kamu. Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kesyurga maka sesungguhnya dia telah berjaya dan (ingatlah bahawa) kehidupan didunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya. Surah Al Imran 3:185.

Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah (bawaan hidup yang berupa semata-mata) permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang mengurang), juga (bawaan hidup yang bertujuan) bermegah-megah di antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak; (semuanya itu terhad waktunya) samalah seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan penanamnya suka dan tertarik hati kepada kesuburannya, kemudian tanaman itu bergerak segar (ke suatu masa yang tertentu), selepas itu engkau melihatnya berupa kuning; Akhirnya ia menjadi hancur bersepai dan (hendaklah diketahui lagi, bahawa) di akhirat ada azab yang berat (di sediakan bagi golongan yang hanya mengutamakan kehidupan dunia itu) dan (ada pula) keampunan besar serta keredaan dari Allah (disediakan bagi orang-orang yang mengutamakan akhirat) dan (ingatlah, bahawa) kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.

Telah pun saya jelaskan sebaik mungkin dan terpulanglah kepada rakan-rakan sekalian untuk menilai, nilaikanlah ianya ikut akal dan bukan ikut rasa. Saya hanyalah penyampai yang mencuba sebaik-baiknya untuk berpesan-pesan dengan kebenaran dan berpesan-pesan dengan kesabaran, apa yang saya harapkan adalah agar rakan-rakan dapat melihat perkara ini dari sudut keseluruhan kesan kepada masyarakat dan tidak hanya faedah kesenangan dunia kepada diri sendiri sahaja. Apabila saya melihat masyarakat kita semakin hari semakin rosak akhlaknya dan semakin nipis imannya, saya banyak berfikir mengapa dan hasil kajian dan penelitian, sistem kewangan dan perbankan baik islamik atau tidak inilah salah satu punca utamanya dan saya tidak mampu menahan diri dari lantang bersuara. Ribuan ampun dan maaf jika artikel saya ini mengguris hati sesetengah pihak, lumrah ubat itu pahit dan manis itu racun maka fikirkanlah. Moga kesedaran akan sampai jua akhirnya, insyaallah. Jadi Islamikkah perbankan islamik? Terpulanglah pada anda kembali untuk menentukannya.


Baca selanjutnya: http://syurgadidunia.blogspot.com/2010/12/islamik-kah-perbankan-islamik.html#ixzz195zbmvGH

JANJI ALLAH KEPADA MEREKA YANG MEMILIKI SIFAT TAQWA

Janji Allah kepada yang memiliki sifat taqwa
Hasil mujahadah yang tinggi, serius serta istiqamah, Allah akan kurniakan kepada kita sifat taqwa. Bermacam-macam kebaikan yang Allah janjikan dalam Al Quran kepada mereka yang memiliki sifat taqwa ini. Ini adalah janji Allah yang pasti tepat dan pasti ditunaikan-Nya. Ia tidak terhingga nilainya yang tidak dapat diukur dengan mana-mana mata wang di dunia ini.

Di antara janji-janji Allah kepada mereka yang memiliki sifat taqwa ini ialah:
1. Terpimpin
Mereka mendapat pimpinan daripada Allah. Ini jelas sekali melalui firman Allah: “Allah menjadi (Pemimpin) Pembela bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Jasiyah: 19)

2. Terlepas dari kesusahan
Mereka dapat terlepas daripada kesusahan. Bukan ertinya mereka tidak mendapat susah atau tidak ditimpa ujian tetapi selepas kesusahan dan ujian, mereka akan terselamat. Walaupun ada pelbagai rintangan dalam ujian itu, ia sementara waktu sahaja. Selepas itu Allah akan lepaskan dari ujian dan rintangan itu dengan menghadiahkan pelbagai macam nikmat pula. Ini jelas dalam firman Allah: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan lepaskan dia dari masalah hidup.” (At Thalaq: 2)

3. Rezeki
Di dunia lagi akan diberi rezeki yang tidak tahu dari mana sumber datangnya. Diberi rezeki yang tidak terduga dan dirancang. Ini jelas dalam sambungan ayat tadi: “Dan akan diberi rezeki sekira-kira tidak diketahui dari mana sumbernya.” (At Thalaq: 3)
Inilah jaminan daripada Allah SWT bagi mereka yang bertaqwa. Sesiapa yang bertaqwa, rezekinya ada sekadar yang perlu. Makan minumnya yang perlu tetap ada walaupun dia tidak berusaha. Walaupun dia tidak ada kerja, tetap ada jaminan daripada Allah. Ini diakui sendiri oleh Imam Ghazali, mungkin ianya dari pengalaman beliau sendiri. Imam Ghazali pernah berkata: “Kalau sekalipun orang bertaqwa itu tidak ada kerja, keperluan-keperluannya tetap diperolehinya.”

Waktu makan akan diberi makanan. Jika patut dapat pakaian, akan diberi pakaian. Dia sendiri tidak tahu dari mana sumbernya kerana ianya bukan daripada usaha dan cariannya sendiri. Dia dapat rezeki bukan melalui sumber usahanya tetapi melalui sumber usaha orang lain. Kalau taqwanya secara jemaah, maka rezeki itu diberi secara berjemaah. Sekiranya taqwanya secara individu, maka secara individu jugalah pemberian Allah itu.

4. Kerja dipermudah
Kerja-kerja orang yang bertaqwa itu dipermudahkan Allah. Ini jelas Allah gambarkan di dalam sepotong ayat: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, dipermudahkan Allah segala urusannya.” (At Thalaq: 4)
Allah memberi jaminan, kerja orang yang bertaqwa itu dipermudahkan. Mungkin juga di samping mudah, hasilnya banyak. Buat sedikit, hasilnya banyak. Jadi kalaulah kita buat kerja berhempas-pulas, di samping hempas-pulas banyak pula rintangan, kemudian hasilnya pula sedikit atau langsung tidak ada, itu menunjukkan kita belum mempunyai sifat taqwa hinggakan Allah tidak membantu.

5. Diberi berkat
Dia diberi berkat daripada langit dan bumi. Berkat pada hartanya, pada kesihatan badannya, pada ilmunya, pada anak-anak dan zuriatnya, pada isterinya, pada suaminya, pada sahabat handai dan jiran, pada gurunya, berkat dakwahnya, berkat ajarannya, berkat pimpinannya dan sebagainya. Ini jelas sekali dalam ayat: “Jikalau penduduk sebuah kampung (atau sebuah negara) itu beriman dan bertaqwa, Tuhan akan bukakan berkat daripada langit dan bumi.” (Al A’raf: 96)

Berkat maknanya bertambah atau subur. Apabila dikatakan hidupnya berkat, maknanya hidupnya penuh dengan kemuliaan, ketenangan, kebahagiaan dan penuh dengan pahala. Hartanya berkat, harta yang tidak putus-putus dapat disalurkan kepada kebaikan dan berpahala walaupun dia bukan orang kaya. Ilmunya berkat, maknanya ilmu yang dimilikinya itu dapat diamalkan, bertambah dan dapat dimanfaatkan kepada kebaikan serta menambahkan pahala.

Badannya yang sihat yang dikatakan berkat itu adalah badan yang dapat digunakan untuk kebaikan. Dengan kesihatan badannya itu, digunakannya untuk jihad fisabilillah, untuk khidmat kepada masyarakat dan dapat menambahkan pahalanya. Masanya berkat ialah masa yang Allah untukkan padanya, dapat digunakan kepada kebaikan. Dia tidak buang masa percuma dengan perkara yang melalaikan. Umurnya berkat, mungkin umurnya bertambah. Kalaupun umurnya tidak bertambah, tetapi umur yang diberikan kepadanya itu akan menambahkan pahala. Rezekinya berkat yakni rezeki yang tidak putus-putus sekalipun tidak kaya, yang dapat digunakan untuk kebaikan dan dapat menambahkan pahala.

Berkat pada anak-anaknya atau zuriat ertinya, anak-anak dan cucu cicit berjaya menjadi anak-anak yang soleh, yang menjadi penyejuk mata hati. Berkat pada isterinya atau suaminya, iaitu isteri tersebut atau suami itu soleh dan solehah, yang dapat mengingat dan memimpinnya selamat di dunia dan di Akhirat. Berkat pada sahabat handai dan jiran, ertinya mendapat sahabat yang baik-baik dan ramai pula yang membantu perjuangannya untuk menegakkan kebenaran. Berkat pada gurunya, iaitu dia mendapat guru yang soleh yang dapat memimpin dan memandunya selamat di dunia dan Akhirat.

6. Amalan diterima
Amal ibadah orang yang bertaqwa diterima oleh Allah. Kalau begitu amal ibadah orang Islam tidak diterima. Orang Islam akan masuk Neraka dulu. Oleh yang demikian, hanya amal ibadah orang yang bertaqwa sahaja yang diterima oleh Allah.
Ini dijelaskan oleh Allah: “Sesungguhnya amal ibadah yang diterima Allah ialah dari orang yang bertaqwa.” (Al Maidah: 27) Maksudnya, Allah hanya menerima sembahyang orang yang bertaqwa. Allah tidak akan terima sembahyang orang yang sekadar Islam. Allah akan terima puasa orang bertaqwa. Allah akan terima perjuangan orang yang bertaqwa. Allah tidak akan terima perjuangan orang Islam. Allah akan terima haji orang yang bertaqwa. Allah tidak akan terima haji orang Islam. Begitulah seterusnya berdasarkan ayat di atas tadi.

7. Amalannya diperbaiki
Amalan orang yang bertaqwa itu sentiasa dibaiki oleh Allah. Sentiasa diperkemaskan oleh Allah daripada masa ke semasa. Ini jelas Allah mengingatkan kepada kita: “Wahai mereka yang beriman hendaklah kamu takut kepada Allah. Hendaklah kamu memperkatakan kata-kata yang teguh; nescaya Allah akan membaiki amalanamalan kamu…” (Al Ahzab: 70-71)

Jadi orang-orang yang bertaqwa amalannya sentiasa dibaiki oleh Allah. Sembahyangnya sentiasa dibaiki Allah. Begitu juga puasanya, bacaan Qurannya, wiridnya dan perjuangannya sentiasa dibaiki. Apa sahaja bentuk kebaikan yang dibuatnya sentiasa dibaiki oleh Allah dari masa ke semasa. Itulah jaminan Allah.

8. Dosa diampunkan
Dosanya diampunkan. Dalam ayat tadi juga ada sambungannya: “Wahai mereka yang beriman, hendaklah kamu takut kepada Allah. Hendaklah kamu memperkatakan kata-kata yang teguh; nescaya Allah akan membaiki amalan-amalan kamu dan akan mengampun bagimu dosa-dosa kamu.” (Al Ahzab: 70-71)
Ertinya dosa-dosa orang-orang yang bertaqwa ini akan diampunkan. Namun begitu orang Islam dosanya tidak diampunkan oleh Allah. Sebab itu orang Islam akan masuk Neraka dulu.

9. Dapat ilmu tanpa belajar
Diberi ilmu tanpa belajar. Yakni diberi ilmu terus jatuh pada hati. Memanglah ilmu yang jatuh kepada hati, tidak perlu proses belajar. Kalau ilmu yang jatuh pada akal, ia perlu melalui proses belajar yakni membaca, mentelaah, kena berguru, kena bermuzakarah, kena berfikir dan merenung. Barulah akan dapat ilmu itu. Sedangkan ilmu yang jatuh pada hati, tidak diketahui sumbernya, tidak perlu berfikir, mentelaah dan tanpa berguru. Ia terus terjatuh sahaja ke hati. Hati itu sebagai wadahnya. Jadi orang yang bertaqwa ini diberi ilmu tanpa belajar. Ini jelas Allah nyatakan dalam ayat Al Quran: “Bertaqwalah kepada Allah nescaya Allah akan mengajar kamu.” (Al Baqarah: 282)

Dapat ilmu daripada Allah tanpa perantaraan guru, tanpa perantaraan belajar. Hal ini diperkuatkan oleh sabda Rasulullah SAW: “…Yang dia tahu, nanti dia akan dipusakakan ilmu yang dia tidak tahu.” (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim) Apa sahaja ilmu yang dia tahu, diamalkan. Hasilnya nanti Allah akan beri ilmu tanpa dia belajar. Ramai orang-orang soleh dan ulama yang soleh diberi ilmu laduni. Itulah ilmu yang jatuh kepada hati yang juga dipanggil ilham. Firman Allah Taala: “Dan Kami ajarkan dia ilmu yang datang dari dari sisi Kami.” (Al Kahfi: 65)

Ertinya orang yang bertaqwa itu akan diberi ilmu terus dari Allah tanpa wasilah guru. Agar tidak terkeliru, perlulah diingat bahawa orang yang hendak dapat ilmu laduni itu, dia mesti ada ilmu asas iaitu ilmu fardhu ain terlebih dahulu.

10. Terlepas dari tipu daya syaitan
Orang bertaqwa itu akan terlepas dari tipu daya syaitan. Dalam Al Quran ada disebutkan tentang hal ini. Firman Allah: “Sesungguhnya orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan mereka.” (Al A’raf: 201)

11. Terlepas dari tipu daya musuh
Orang bertaqwa juga lepas daripada tipu daya musuh lahir sama ada orang kafir mahupun orang munafik. Firman Allah: “Jika kamu bersabar dan bertaqwa, nescaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali Imran: 120)

12. Terhindar dari Neraka
Orang bertaqwa terhindar daripada Neraka. Ertinya tentulah dia masuk Syurga sebab di Akhirat tidak ada tiga tempat. Kalau terlepas daripada Neraka, bermakna ke Syurgalah dia. Firman Allah Taala: “Akan tetapi orang yang bertaqwa kepada Tuhannya, bagi mereka Syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya.” (Ali Imran: 198) Firman Allah lagi: “Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam Syurga dan (di dalamnya mengalir) mata air. (Dikatakan kepada mereka): ‘Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman’.” (Al Hijr: 45-46) dan laigi FirmanNya, “Itulah Syurga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa.” (Maryam: 63)

Inilah di antara keuntungan-keuntungan atau bonus yang diperolehi oleh orang yang bertaqwa. Kesemua itu tidak dapat dinilai dengan mata wang dunia kerana terlalu tinggi nilainya. Ia didapatkan hasil daripada membersihkan hati, mujahadah bersungguh-sungguh membuang sifat-sifat mazmumah dan menyuburkan sifat mahmudah serta mengamalkan syariat yang lahir dan batin. Kalau di dunia ini kita berebut-rebut untuk dapatkan bonus yang tidak ada nilai di sisi Allah itu, mengapa kita tidak rebut bonus taqwa yang manfaatnya untuk dunia dan Akhirat? Kalau tidak mahu bonus itu, orang bodoh namanya. Bodoh Akhirat!

Hati Kita Hati Orang

Alhamdulillah, baru-baru ini saya berpeluang mendengar bacaan ayat-ayat suci al-Quran dalam sebuah majlis. Bacaan dan terjemahan surah Al-Hujraat, benar-benar berkesan di hati kerana ia memperingatkan saya mengenai pelbagai polemik, konflik, krisis dan kritik yang sudah menjelma menjadi kata mengata, senda mempersenda, maki hamun malah fitnah memfitnah sesama kita. Surah ini seharusnya menjadi renungan pelbagai pihak di kalangan orang politik, orang persatuan, orang surau, malah orang di pejabat-pejabat.

Renungkanlah di antara peringatan daripada ALLAH dalam surah ini:

Ayat 6:
Pentingnya Menyelidik Sesuatu Berita, Cerita & Gosip
WAHAI orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.

Ayat 10:
Mendamaikan Pihak Yang Bersengketa, Bukan Mengapi-Apikan
SEBENARNYA orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang bertelingkah) itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.

Ayat 11:
Larangan Meninggi Diri Dan Mengata Orang Lain
WAHAI orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasik (kepada seseorang) sesudah dia beriman dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya) maka merekalah orang-orang yang zalim.

Ayat 12:
Larangan Berprasangka Dan Mencari Salah Orang
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.

Ayat 13:
Allah Memandang Ketakwaaan, Bukan Keturunan
WAHAI umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu). (13)
SESUNGGUHNYA pertelingkahan dan pergeseran yang terjadi berpunca kerana kegagalan masing-masing menjaga hati. Perasan yang hati masing-masing masih putih bersih. Kerana itu berani dan konfiden melakukan apa sahaja dosa tanpa menyedari hati sudah mula dipenuhi titik-titik noda.

Hadis Rasulullah:
"Sesungguhnya dalam jasad manusia itu ada seketul daging, jika baik daging itu itu maka baiklah keseluruhan jasad dan jika buruk, maka buruklah jasad keseluruhannya, ingatlah bahawa daging itulah hati".
Bila hati sendiri tidak terjaga, bagaimana hendak menjaga hati orang lain?

- Artikel iluvislam.com

7 PERKARA GANJIL MENIMPA MAYAT

Firman Allah SWT yang bermaksud: "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata,'Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan kerana kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar, dan kerana kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya" (Surah Al-An'am Ayat 93)

Terdapat seorang pemuda yang kerjanya menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah SWT. Dia berkata, “Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat.”

” Yang pertama, aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telah pun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” tanya pemuda itu. ” Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah sewaktu hidupnya. Lantaran Allah menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membezakan mereka daripada golongan muslim yang lain,” jawab ahli ibadah tersebut.

Sambung pemuda itu lagi, ” Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahad. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telah pun bertukar menjadi babi. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?” Jawab ahli ibadah tersebut, ” Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika sempurna solat, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,”

Pemuda itu menyambung lagi, ” Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa sahaja. Apabila aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu.” ” Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda,” balas ahli ibadah itu lagi.

” Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” Jawab ahli ibadah itu, ” Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibu bapanya.”

” Golongan kelima, ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya,” sambung pemuda itu. ” Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda,” jelas ahli ibadah tersebut.

” Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahadnya kering kontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,” ” Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya,” jawab ahli ibadah tadi.

” Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?” tanya pemuda itu lagi. Jawab ahli ibadah tersebut, ” Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka. Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya.”

Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah kita datang dan kepada-Nya jualah kita akan kembali. Kita akan dipertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta amalan sebesar zarah.

Wednesday, 18 May 2011

Bertafakkur Terhadap Hari Akhirat

Tidaklah keterlaluan jika saya mengatakan: Sesungguhnya hari akhirat tidak difikirkan dan dihiruukan sangat oleh kebanyakan orang Islam jika dibandingkan dengan perhatian mereka terhadap dunia. Bahkan kemungkinan berlalu jangka masa yang panjang tanpa terlintas di hati seseorang itu tentang hari yang dahsyat ini, iaitu hari semua manusia dibangkitkan di hadapan Tuhan sekalian alam. Tidakkah engkau melihat manusia membuat persediaan dan bertungkus-lumus untuk menghadapi musim panas dan musim sejuk. Malangnya mereka bermudah-mudah dan tidak membuat persediaan untuk menghadapi kepanasan neraka.

Sekahpun ungkapan beriman dengan Allah dan hariakhirat berulang-ulang di dalam Al-Qur’an, kita melihat ramai di kalangan mereka yang tidak mengingati hari tersebut. Mereka memandangnya scolah-olah ia masih jauh. Mereka lebih mementingkan untuk mengambil berat dengan perkara yang dekat iaitu dunia.
Sebenarnya, hanya dengan mendengar nama-nama hari akhirat dan gemanya boleh menggementarkan perasaan dan menyedarkan hati yang lalai: Al-Qari’ah (hari yang menggemparkan), Al-Sa’iqah (hari yang menyambar), Al-Haqqah (yang tetap berlaku), Al-Waqi’ah (hari yang berlaku qiamat), Al-Sakhkbah (hari yang datang suara jeritan yang dahsyat), Al-Tammah Al-Kubra (hari yang bencananya amat besar), Al-Ghasiyyah (hari yang huru-haranya meliputi), Al-Rajfah (hari yang menggegarkan) dan lain-lain nama-nama dan sifat-sifatnya.

Sekiranya kita mentadabbur apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah berkenaan sifat dan perkara yang akan berlaku pada hari tersebut, lalu kita menghayatinya dengan sebenar-benar penghayatan, nescaya mata kita tidak akan terpejam untuk tidur, bibir tidak akan tersenyum, fikiran tidak akan tenteram dan air mata tidak akan kering dan terus mengalir.

Siapakah yang membaca dan mendengar ayat-ayat ini tetapi tidak terkesan di hati dan sedar dari kelalaian:
Wahai umat manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kamu! Sesungguhnya gempa hari qiamat itu suatu perkara yang amat besar. Pada hari kamu melihat (peristiwa-peristiwa yang mengerikan) itu, tiap-tiap ibu penyusu akan melupakan anak yang disusukannya, dan tiap-tiap perempuan yang mengandung akan gugurkan anak yang dikandungnya; dan engkau akan melihat manusia mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, tetapi azab Allah amatlah berat, mengerikan.
(Surah Al-Hajj: Ayat 1-2)

Ayuhlah wahai saudaraku! Kita berfikir bersama-sama tentang hari akhirat, peristiwa dan kejadian yang akan berlaku sehingga menyebabkan kanak-kanak menjadi tua beruban. Kita fikirkan tentang tiupan sangkakala, kebangkitan dan pembentangan ‘amalan di hadapan Tuhan Yang Maha Perkasa untuk dihisab dan ditanya tentang setiap yang sedikit dan juga banyak. Dijadikan mizan untuk diketahui kadar ‘amalan dan menentukan kesudahan. Titian sirat dilalui sama ada untuk menuju kebahagian di syurga atau kesengsaraan di neraka.

Sesungguhnya kita tidak terdaya untuk berbicara tentang semua perkara yang berlaku secara terperinci, tetapi kita sebutkan di sini beberapa ciri-cirinya. Ambillah iktibar darinya sebagai manhaj untuk tafakkur dan tadabbur yang menambahkan iman dan keprihatinan terhadap hari akhirat.

A. TIUPAN SANGKAKALA
Pemandangan peristiwa yang dahsyat ini bermula dengan tiupan sangkakala yang pertama. Semua yang berada di langit dan bumi akan mati melainkan mereka yang dikehendaki Allah. Terjadi juga beberapa perkara yang sukar untuk kita fikirkan seperti langit terbelah, bintang-bintang gugur berselerakan, bukit-bukau hancur, air lautan meluap-Iuap, gempa bumi dan kubur-kubur terbongkar. Kemudian langit dan bumi ini akan ditukar menjadi alam yang lain. Lalu ditiup pula sang¬kakala untuk kali ke dua. Ketika itulah terjadinya kebangkitan semula. Manusia menjadi seperti kelkatu yang terbang berkeliaran, tidak berkasut dan tidak berpakaian. Bacalah sebahagian ayat Al-Qur’an dan hadith yang menggambarkan peristiwa ini:
Dan sudah tentu akan ditiup sangkakala, makapada waktu itu matilah makhluk-makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi, kecuali sesiapa yang dikehendaki Allah (terkemudian matinya); kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka dengan serta merta mereka bangun berdiri menunggu (kesudahan masing-masing).
(Surah Al-Zumar: Ayat 68)

Pada masa berlakunya “tiupan sangkakala Yang pertama” Yang menggoncangkan alam, (sehingga mati Segala Yang bernyawa dan punah-ranah sekalian makhluk selain dari Yang dikecualikan),
Tiupan Yang pertama itu diikuti oleh tiupan Yang kedua, (yang menyebabkan orang-orang Yang mati semuanya hidup semula serta keluar dari kubur masing-masing);
Hati (manusia) pada hari itu berdebar-debar takut,
Pemandangannya tunduk gerun.
Mereka (yang ingkar) berkata: “Sungguhkah kita akan dikembalikan hidup seperti keadaan di dunia dahulu?
(Surah Al-Nazi’at: Ayat 6-10)

Maka (jawabnya: hari qiamat akan datang) apabila pemandangan menjadi terpendar-pendar (kerana gerun takut). Dan bulan hilang cahayanya. Dan matahari serta bulan dihimpunkan bersama. (Maka) pada hari itu, berkatalah manusia (yang ingkarkan hari qiamat): “Ke manakah hendak melarikandiri?”
(Surah Al-Qiyamah: Ayat 7-10)
Pada hari seseorang itu lari dari saudaranya,
dan ibunya serta bapanya,
dan isterinya serta anak-anaknya; -
kerana tiap-tiap seorang dari mereka pada hari itu, ada perkara-perkara Yang cukup untuk menjadikannya sibuk Dengan hal dirinya sahaja.

muka (orang-orang Yang beriman) pada hari itu berseri-seri,
tertawa, lagi bersuka ria;
dan muka (orang-orang Yang ingkar) pada hari itu penuh berdebu,
diliputi oleh warna hitam legam dan gelap-gelita. -
mereka itu ialah orang-orang Yang kafir, Yang derhaka.
(Surah ‘Abasa: Ayat 34-42)
Demikianlah kekhualiian, kekagetan, kepanasan dan kebingungan. Di dalam hadith Ibnu ‘Umar: Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Pada hari manusia menghadap Tuhan alam semesta, salah seorang dari mereka tenggelam di dalam keringatnya sampai ketelinganya.
(Muttafaqun alaih)
Kita hendaklah bersusah-payah untuk menjadi orang-orang yang wajahnya berseri-seri, tertawa, lagi bersuka ria.

B.PEMBENTANGAN SURATAN ‘AMAL, HISAB DA N MIZAN
Wahai saudara! Bayangkanlah bersamaku, di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala engkau dipersoalkan tentang perbuatan dan perkataan yang datang dari kamu sama ada besar atau kecil. Sebahagian daripada kita gementar ketika disoal oleh ketua mereka tentang kesalahan yang dilakukan, bagaimana pula halnya jika di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Pada hari itu, kamu semua dihadapkan (untuk hitungan ‘arnal); tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi (kepada Allah) dari perkara-perkara kamu yang tersembunyi.
(Surah Al-Haqqah: Ayat 18)

Pada hari itu orang-orang yang kafir dan menderhaka kepada Rasulullah, suka jika mereka disama-ratakan dengan tanah (ditelan burnt), dan (ketika itu) mereka tidak dapat menyembunyikan sepatah katapun dari pengetahuan Allah.
(Surah An-Nisa’: Ayat 42)
Tiada bantahan, tiada kema’afan dan tiada pelepasan:
Bahkan manusia itu, (anggotanya) menjadi saksi terhadap dirinya sendiri.
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri Walaupun ia memberikan alasan-alasannya (untuk membela diri).
(Surah Al-Qiyamah: Ayat 14-15)

Pada hari itu, anggota badan menjadi saksi:
Pada hari lidah mereka dan tangan mereka serta kaki mereka menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, tentang Segala Yang mereka lakukan.
(Surah An-Nur: Ayat 24)
Dalam keadaan ini, semua yang teraniaya dikembalikan haknya. Sewajarnya kami sebutkan di sini hadith Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam:
“Adakah kamu mengetahui siapakah yang muflis?” Kami menjawab: “Orang yang muflis di kalangan kami, wahai Rasulallah, ialah mereka yang tidak mempunyai dirham, dinar dan harta”Rasulullah bersabda: “Orang yang muflis daripada umatku ialah mereka yang datang pada hari qiamat dengan ‘amalan sembahyang, puasa dan zakat; sedangkan ia telah memaki seseorang, menuduh seseorang, memakan harta seseorang dan menumpahkan darah seseorang. Lalu, diberikan ‘amalan kebaikannya kepada orang-orang itu. Sekiranya kebaikannya telah habis sementara tanggungan dosanya itu belum langsai; kesalahan orang-orang tersebut akan diambil dan dicampakkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.”

Ketika itu, ternyatalah kerugian, kehinaan, sesalan, ketakutan dan perasaan cemas. Kamu akan mendapati mercka yangberkata:
Dan (ingatkanlah) perihal hari orang-orang Yang zalim menggigit kedua-dua tangannya (marahkan dirinya sendiri) sambil berkata: “Alangkah baiknya kalau Aku (di dunia dahulu) mengambil jalan Yang benar bersama-sama Rasul?
“Wahai celakanya aku, Alangkah baiknya kalau Aku tidak mengambil si Dia itu menjadi sahabat karib!

“Sesungguhnya Dia telah menyesatkan daku dari jalan peringatan (Al-Quran) setelah ia disampaikan kepadaKu. dan adalah Syaitan itu sentiasa mengecewakan manusia (yang menjadikan Dia sahabat karibnya)”.
(Surah Al-Furqan: Ayat 27-29)
Di sana juga terdapat mercka yang berada dalam kesejahteraan, kegembiraan dan mendapat petanda baik. Kami bermohon kepada Allah agar kita tergolong di kalangan mereka.

C.TITIAN (SIRAT)
Selepas pembentangan suratan ‘amal dan hisab, tibalah masa melintasi titian (sirat) yang diletakkan di atas neraka jahannam. Jika engkau bayangkan pemandangan ini berlaku di hadapan mata kamu, sudah tentu hati akan gementar dengan hanya terfikir mengenainya. Tadabburlah bersamaku hadith Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam:
Manasia akan meniti titian (sirat) – (yang terbentang di atas) neraka jahannam.

Disekitamya terdapat banyak duri, belenggu dan pencangkuk yang akan rnenyambar manasia dari kanan dan kiri. Di kedua-dua sisinya terdapat malaikat yang berdo ‘a: “Ya Allah! Selamatkanlah, ya Allah! Selamatkantah!” Di antara manasia ada yang melintasinya sepantas kilat, ada yang melintasinya seperti angin, ada yang melintasinya seperti penunggang kuda, ada yang berlari-lari anak, ada yang berjalan seperti biasa, ada yang merangkak dan ada yang mengesot. Adapun mereka yang sememangnya dia akan menjadi ahli neraka, mereka tidak mati dan tidak hidup. Manakala manasia lain akan diberikan pembalasan dosa dan kesalahan. Mereka terbakar sehingga menjadi arang, kemudian diizinkan untuk mendapat syafa ‘at.
(Muttafaqun Alaih daripada Abi Sa’id Al-Khudi i)

D. SYAFA’AT
Sebahagian mu’min yang telah ditentukan masuk ke neraka, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuhakan mereka dengan menerima syafa’at yang la redai daripada para anbiya’, syuhada’ atau salihin. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam boleh memberi syafa’at, Baginda telah bersabda:
Diberikan kepadaku lima (keistimewaan) yang tidak diberikan kepada sesiapapun sebelumku…. satu daripadanya syafa’at.
(Muttafaqun ‘Alaih)

Di dalam hadith yang lain:
Setiap Nabi terdapat do’a yang pasti mustajab. Tetapi aku ingin menyimpan do’aku itu sebagai simpanan untuk syafa’at kepada umatku pada hari qiamat.
Inilah kelebihan dan kemuliaan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Islam dan Nabi-Nya ‘alaihimussalalu wassalam.

E.KOLAM SYURGA
Kolam syurga dikhususkan untuk Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam dan ummatnya. Di dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Muslim daripada Anas, beliau berkata: Ketika mana surah Al-Kauthar diturunkan kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam para sahabat bertanya, dan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Adakah kamu mengetahui apakah Al-Kauthar?” Para sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Rasulullah (Sallallahu ‘alaihi wasalhmi) bersabda: “la adalah sungai yang Tuhanku ‘Azza wa Jalla janjikan di syurga. Banyak kebaikan darinya. Padanya terdapat kolam yang didatangi oleh umatku pada hari qiamat. Bejana-bejananya adalah sebanyak bilangan bintang di langit.”

F.NERAKA JAHANNAM
Untuk menghasilkan kesan yang berpengaruh di dalam jiwa dengan bertafakkur mengenai hari akhirat, perlulah kita memikirkan tentang syurga dan neraka. Bayangkan bentuk kehidupan di dalam ke dua-duanya terbentang di hadapan mata kita. Lakarkan di dalam fikiran akan sifat-sifatnya yang disebut di dalam Al-Qur’an dan hadith. Dengan itu, rasa takut dan gementar terhadap neraka akan tercetus. Justeru, kita melarikan diri darinya dengan menjauhi ma’siat. Kita akan merindui syurga dan berlumba-lumba ke arahnya. Memadailah kami sebutkan di sini sebahagiannya sebagai contoh. Sekiranya satu ayat menyentuh hati seorang mu’min tanpa sebarang lapisan yang menghalang, nescaya ianya akan menyentuh jiwa dan mengerikan.

Bacalah bersamaku, setelah engkau mengosongkan hati dan ‘aqal engkau dari segala perkara yang menyibukkan dan memalingkan:
Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) Yang berbantah-bantahan tentang Tuhan mereka. maka orang-orang Yang kafir akan disediakan untuk mereka pakaian dari api neraka, serta dicurahkan atas kepala mereka air panas Yang menggelegak,
Yang dengannya dihancurkan apa Yang ada Dalam perut mereka, dan juga kulit badan mereka.

dan mereka pula disediakan batang-batang besi untuk menyeksa mereka.
tiap-tiap kali mereka hendak keluar dari neraka itu, disebabkan mereka menderita azabnya, mereka dikembalikan padanya, serta dikatakan: “Rasalah kamu azab seksa Yang membakar!”
(Surah Al-Hajj: Ayat 19-22)
Sesungguhnyu orang-orang yang kufur ingkar kepada ayat-ayat keterangan Kami, Kami akan membakar mereka dalam api neraka. Tiap-tiap kuli kulit mereku musak hangus, Kami gantikan untuk mereka kulit yang lain supaya mereka dapat merasa azab sengsara itu. Dan (ingatlah) sesungguhnyu Allah adalah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksuna.
(Surah An-Nisa’: Ayat 56)
Dan (Rasul-rasul serta umatnya Yang beriman) memohon pertolongan (kepada Allah, untuk mendapat kemenangan); dan terkecewalah tiap-tiap orang Yang sombong takbur, lagi bersikap degil (dalam keingkarannya).
di belakangnya disediakan neraka Jahannam, dan ia akan diberi minum dari air danur (yang keluar dari tubuh ahli neraka).

ia meminumnya Dengan terpaksa dan hampir-hampir tidak dapat diterima oleh tekaknya (kerana busuknya), dan ia didatangi (penderitaan) maut dari Segala arah, sedang ia tidak pula mati (supaya terlepas dari azab seksa itu); dan selain dari itu, ada lagi azab seksa Yang lebih berat.
(Surah Ibrahim: Ayat 15-17)
(ingatlah), Sesungguhnya pokok Zaqqum, -
(Buahnya) menjadi makanan bagi orang Yang berdosa (dalam neraka).
(Makanan ini pula panas) seperti tembaga cair, mendidih Dalam perut, -
seperti mendidihnya air Yang meluap-luap panasnya.

(lalu diperintahkan kepada malaikat penjaga neraka): “Renggutlah orang Yang berdosa itu dan seretlah Dia ke tengah-tengah neraka.
“Kemudian curahkanlah di atas kepalanya – azab seksa – dari air panas Yang menggelegak”.
(serta dikatakan kepadanya secara mengejek): “Rasalah azab seksa, sebenarnya Engkau adalah orang Yang berpengaruh dan terhormat (dalam kalangan masyarakatmu)”
(Surah Al-Dukhan: Ayat 43-49)

Di dunia ini, sekiranya kebakaran terjadi di rumah yang tinggi, mereka yang tinggal di dalam tidak berkesempatan untuk melarikan diri melalui tangga, mereka akan melemparkan diri dan tempat tinggi kerana takut dari api, sekalipun mereka mengetahui akan bahayanya, kemungkinan mereka akan mati. Adakah tidak takut akan api neraka jahannam sepertimana takut terhadap api dunia. Sebenarnya, api neraka jahannam lebih ditakuti.
Kami tidak lupa untuk menyebut sikap iblis bersama pengikutnya. Mereka cuba berlepas diri tetapi celaan itu kembali ke atas diri mereka masing-masing.

Dan berkatalah pula syaitan setelah selesai perkara itu: Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kamu dengan janji yang benar dan aku telah menjanjikan kamu lalu aku mungkiri janjiku itu kepada kamu; dan tiadalah bagiku sebarang alasan dan kuasa mempengaruhi kamu selain daripada aku telah mengajak kamu lalu kamu terburu-buru menurut ajakanku itu; maka janganlah kamu salahkan daku tetapi salahkan diri kamu sendiri. Aku tidak dapat menyelamatkan kamu dan kamu juga tidak dapat menyelamatkan daku. Sesungguhnya dari dahulu lagi aku telah kufur ingkarkan (perintah Tuhan) yang kamu sekutukan daku denganNya. Sesungguhnya orang-orang yang zalim (yang meletakkan sesuatu pada bukan tempatnya) beroleh azab yang tidak terperi sakitnya.
(Surah Ibrahim: Ayat 22)

G. SYURGA DAN NIKMATNYA
Alangkah nyamannya tiupan angin syurga. Kita semua amat merindukannya. Apa yang disebut di dalam kitab Allah dan hadith Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam tentang sifat-sifat dan ni’mat syurga adalali sebagai contoh bandingan Dengan apa yang terdapat di dunia Akan tetapi hakikatnya melebihi apa yang terdapat di dunia ini dan tidak pernah terlintas di tikiran. Wahai saudara! Rujuklah kitab Allah, bacalah dengan teliti dan tadabbur ayat-ayat yang menyebut tentang syurga dan ni’matnya. Pejamkan matamu, bayangkan din engkau sedang berada di dalamnya. Cubalah merasai kerinduan kepada kesudahan itu. Di sana terdapat kesejahteraan, kebahagiaan dan semua jenis ni’mat. Tiada kekejutan, ketakutan, keletihan, kebakhilan, kehinaan, kedengkian dan kebencian, bahkan semuanya saling bersaudara serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing.

Jika istana, kebun, bidadari, pelbagai jenis makanan, minuman, buah-buahan, pakaian dan segalanya yang diidam-idamkan nafsu manusia; keredaan dan peluang melihat Allah menandingi semua itu:
Keredaan dari Allah yang lebih besar kemuliaannya; (balasan) yang demikian itulah kejayaan yang besar.
(Surah At-Taubah: Ayat 72)
Demikian juga, pergaulan dengan para Nabi, siddiqin, syuhada’, salihin adalah teman yang terbaik.

Bantinglah tenaga di jalan Allah dan belalah agamaNya. Tabahkanlah diri menanggung segala apa yang merintang di jalan da’wah demi keredaan Allah. Saya tidak lupakan suatu perkara yang baik yang disebut oleh seorang sahabat, semasa kali pertama saya dipenjarakan pada tahun 1948. Beliau mengatakan: “Sayyidina Musa ‘Alaihissalam bekerja keras selama lapan atau sepuluh tahun kerana mencari mahar untuk calon isteri Baginda di dunia. Maka, lihatlah pula kepada bidadari, berapakah nilai maharnya?”

Di penghujung imbasan tatakkur ke alam ghaib yang dinantikan ini, saya sampaikan sebuah kisah yang telah saya baca: Seorang dan kaum Muslimin telah melakukan maksiat terhadap Allah lalu ia bertaubat. Tetapi keadaan ini sering berulang. Ia mengadu hal tersebut kepada seorang yang salih. Perbualan mereka adalah seperti berikut:
Berkatalah orang salih itu: “Jika engkau mampu untuk melakukan lima perkara, usahlah khuatir terhadap maksiat.” Lalu orang itu bertanya: “Apakah ia?” Orang salih menjawab: “Jika engkau ingin melakukan maksiat terhadap Allah, jangan¬lah tinggal di dalam kekuasaanNya.” Lalu orang itu menjawab. “Saya tidak berupaya. Apakah yang kedua?” Berkata orang salih: “Jika engkau ingin melakukan maksiat terhadap Allah, janganlah makan rezekiNya.” Orang itu menjawab: “Jadi, saya akan mati kelaparan.

Apakah pula yang ketiga?” Orang salih meneruskan: “Jika engkau ingin melakukan maksiat terhadap Allah, lakukanlah di tempat yang tidak dilihat sesiapapun.” Lantas orang tadi menjawab: “Sesiapapun tidak dapat bersembunyi dariNya.” Berkata orang salih: “Engkau tinggal di dalam kekuasaanNya dan engkau makan rezekiNya tetapi engkau menderhakaiNya. Ini adalah kemuncak penderhakaan.” Ia bertanya: “Apakah yang keempat.” Berkata orang salih: “Apabila malaikat maut datang kepada engkau, mintalah daripadanya agar ia meninggalkan engkau agar sempat engkau bertaubat nasuha.” Lalu ia bertanya lagi: “Apakah yang kelima.” Orang salih menjawab: “Apabila engkau diheret ke neraka, janganlah engkau pergi bersama mereka.” Lalu berkata orang itu: “Ini adalah mustahil.”

Selepas itu, ia bertaubat nasuha. Ia tidak lagi melakukan maksiat. Perkara yang berlaku ialah pengertian iman dengan Allah dan hari akhirat telah membeku di dalam dirinya. Lalu, orang salih itu menyedarkannya. Uslub yang sebegini memberikan kesan sehingga membolehkan seseorang bertaubat nasuha. Kami harapkan, kita juga mendapat kesan sedemikian dengan cara tafakkur yang kami bentangkan sebelum ini. Semoga Allah memberi taufiq.

Isteri Luar Biasa

Berkahwin dan memiliki sebuah keluarga sentiasa menjadi keinginan seorang wanita.
Jika ditanya pula pada seorang wanita yang baru mendirikan rumahtangga, kebanyakannya ingin menjadi isteri yang baik kepada suami dan ibu yang baik kepada anak-anaknya.

Antara lain harapan yang diletakkan ialah ingin mengekalkan kebahagiaan hingga ke anak cucu, malah ada yang ingin kekal bahagia sehingga ke akhir hayat.
Sekalipun matlamat dan harapan cukup jelas, ramai yang gagal meramal atau menjangka laluannya tidak semudah yang disangka.
Alasannya cukup mudah, jika yang diinginkan ialah kebahagiaan, sudah tentu yang diuji adalah ketahanan dan pengorbanan setiap individu yang inginkan kebahagiaan tersebut.

Bahagia tidak datang secara percuma, juga bahagia bukan sesuatu yang boleh diperturunkan oleh sesiapa kepada sesiapa.
Kebahagiaan perlu diusahakan.
Laluannya perlu difahami, teknik dan strategi perlu dipelajari, rintangan dan halangan perlu dijangka lebih awal, persediaan mental, fizikal dan kejiwaan perlu sentiasa dibina dan ditingkat, kemahiran asas dan tambahan perlu dipelajari, petua dari yang orang yang berjaya dan berpengalaman perlu sentiasa dituntut dan yang penting sekali perhubungan dengan Yang Maha Berkuasa perlu sentiasa dihidupkan.
Bagi seorang wanita yang ingin menjadi isteri yang solehah, mereka perlu jelas dengan apa yang dinyatakan tadi.

Isteri solehah di sisi Allah selayaknya diberi ganjaran syurga. Sementara syurga itu adalah tempat orang yang juga mendapat tempat disisi Allah.
Orang yang mendapat tempat disisi Allah pula bukanlah orang yang sembarangan, bukan orang yang kalah bila diuji, yang melatah bila ditimpa kesusahan dan putus asa bila diuji dengan kesabaran.

Isteri yang solehah boleh dikatakan sebagai isteri yang luar biasa pada masakini.
Pada masa ini terdapat lebih ramai isteri yang biasa-biasa saja dari segi ketaatan dan kepatuhan kepada suami juga biasa-biasa sahaja dari segi ketahanan jiwa dan mentalnya dalam menjalankan tanggungjawabnya sebagai isteri.
Sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Nabi dalam Isra' baginda dimana kebanyakan dari penghuni neraka adalah wanita, termasuklah wanita yang derhaka kepada Allah dan suaminya.

Jika sudah itu kenyataannya sudah tentu di dunia kini kita dapat melihat banyak wanita yang bergelar isteri mempunyai ciri-ciri ahli neraka. Juga pada masa yang sama jika terdapat golongan wanita yang mempunyai ciri-ciri ahli syurga sudah tentu sedikit bilangannya.

Maka dari kiraan statistiknya kumpulan yang terkeluar dari populasi yang ramai atau yang biasa dinamakan sebagai kumpulan yang luar biasa.
Dalam konteks sebuah perkahwinan, kedudukan wanita atau isteri di sisi suaminya adalah sebagai pembantu atau suri dalam kehidupan. Jika suami ibarat raja yang boleh bertitah dan mengeluarkan perintah, isteri pula umpama menteri yang menerima segala arahan dan wajib mentaati serta merealisasikan perintah tersebut.

Dalam ertikata yang lain, isteri bertanggungjawab mentaati perintah suami.
Dalam Al-Quran jelas menyatakan perkara tersebut dimana isteri wajib mentaati suami selagimana perintah suami tidak bercanggah dengan perintah Allah Taala.
Isteri yang luarbiasa perlu lulus segala ujian. Ujian seorang isteri terletak dibawah kemampuannya mentaati perintah Allah dan juga perintah suaminya. Isteri yang ingin lulus dengan jayanya perlu mengetahui beberapa perkara yang menjadi kunci atau asas kejayaan.

01.Pertama, isteri perlu meletakkan Allah sebagai pusat ketaatan yang tertinggi dan utama atas segala-galanya.
Sementara suami wajib ditaati selagi apa yang diperintah tidak menyalahi atau membelakangi ketaatan isteri kepada Allah.
Dalam ertikata lain, isteri perlu tahu dan faham bahawa ketaatan beliau kepada suami adalah kerana Allah memerintahkan beliau untuk berbuat demikian, bukan kerana suami yang mengkehendaki sedemikian.

Adalah penting untuk isteri memahami perkara ini kerana kebanyakan isteri yang 'biasa-biasa' mudah merasa putus asa untuk terus mentaati apa yang dikehendaki oleh suami terutama apabila keinginan suami bercanggah dengan keinginan sendiri atau suami tidak membalas ketaatan dan kebaikan yang isteri lakukan.
Isteri yang luarbiasa mempunyai matlamat yang juga luarbiasa atau yang tidak dapat dilihat oleh isteri yang 'biasa-biasa'.

Jika isteri yang 'biasa-biasa' melihat hubungan antara suami dan isteri sebagai interaksi antara pasangan bercinta, isteri yang luarbiasa melihat hubungan tersebut dan interaksi antaranya sebagai ibadah kepada Allah Taala.
Maka tidak kiralah samada suami membalas atau tidak kebaikan yang dilakukan, isteri sebegini tidak akan berhenti dari terus melaksanakan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah Taala.

02.Kedua, isteri perlu sentiasa menjana kekuatan mental dan spiritualnya.
Tanggungjawab seharian seorang isteri sangat mencabar kekuatan jiwa. Apatah lagi jika isteri tersebut bekerjaya. Tuntutan tanggungjawab yang berterusan mudah menekan perasaan naluri isteri yang secara fitrahnya sememangnya lembut dan halus.
Lebih mencabar lagi jika isteri tersebut mempunyai suami yang kurang sensitif atau kurang bertimbangrasa dalam hal-hal berhubung tanggungjawab di rumah.
Walau apapun keadaannya, apa yang dipertanggungjawabkan oleh Allah kepada seorang isteri akan kekal sebagai tanggungjawab yang bakal disoal di akhirat kelak.
Dalam ertikata yang lain, sekalipun isteri tersebut bekerja, tidak sekali-kali dia terkecuali atau dikurangkan dari tanggungjawab asasnya terhadap rumahtangganya.
Dalam keadaan ini jika tekanan tidak dapat dikurangkan seorang isteri yang luarbiasa akan sentiasa meningkatkan kekuatan mental dan spiritualnya melalui hubungannya dengan Allah Taala.
Semakin kuat tekanan, semakin rapat hubungannya dengan Allah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah s.a.w;

"Barangsiapa menjadikan semua kebimbangannya kepada satu kebimbangan (akhirat) Allah akan melenyapkan semua kebimbangan keduniaannya, dan barangsiapa yang membimbangkan tentang hal-hal keduniaan, Allah akan membiarkannya tenggelam dalam kebimbangannya"
Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman yang kira-kira bermaksud:
"Wahai anak Adam! Luangkanlah masa kamu untuk beribadah kepadaKu dan Aku pastinya akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan kesenangan (iaitu merasa puashati dan bebas dari kesusahan) dan membebaskan kamu daripada bergantung (pada orang lain untuk keperluanmu) tetapi sekiranya kamu tidak melakukannya maka Aku akan memenuhi dadamu dengan perasaan gelisah dan rasa bersalah dan tidak akan membebaskanmu daripada bantuanmu (dan keperluan)."

Dengan kata lain, semakin bertambahnya kekayaan, kamu akan bertambah bakhil dan kamu akan sentiasa dalam kebuntuan.
Isteri yang luar biasa menjadikan Allah sebagai tempat mengadu, tempat bergantung dan memohon kekuatan.
Dalam keadaan bebanan tanggungjawab yang semakin bertambah; melayan dan memenuhi keperluan suami, mendidik dan mengasuh anak-anak, mengurus kerja-kerja rumahtangga yang tidak pernah berkesudahan, kemudian di tambah lagi dengan tuntutan tanggungjawab kerjaya sudah tentu kudrat manusia biasa tidak termampu untuk menanggungnya sendirian, apatah lagi oleh wanita yang berjiwa halus dan berfizikal lembut.

Dalam keadaan ini hanya Allah sahaja yang mampu memberi kekuatan, tempat mengadu yang menyediakan pemahaman yang amat mendalam dan tempat menggantung doa serta harapan yang tidak pernah mengecewakan.
Isteri luarbiasa mempunyai pertalian yang luarbiasa dengan Penciptanya.
03.Ketiga, isteri luarbiasa jiwanya penuh dengan kasih sayang.
Kasih sayang tersebut sentiasa mendorongnya untuk memberi berbanding menerima, memahami berbanding menuntut orang lain memahaminya, mengutamakan berbanding diutamakan, berkorban berbanding mengharap orang lain berkorban untuknya.

Isteri sebegini sedar dimana beliau dapat menyalurkan kedukaan dan keluhan agar tidak sampai nampak pada pandangan suami apatah lagi menyusahkan suami.
Bagi seorang isteri yang luarbiasa akhlaknya, tanggungjawabnya lebih utama dari hak yang perlu dituntut. Tanggungjawab akan dikira di depan Allah berbanding dengan hak.
Isteri solehah lebih gusar jika tanggungjawab sebagai isteri dan ibu tidak dipenuhi olehnya berbanding dengan hak yang perlu diterima.

Isteri solehah lebih gusar jika kemuraman dan kemasaman wajahnya menyusahkan suami berbanding menuntut suami melayani perasaan dan kekecewaannya. Dalam ertikata yang lain, isteri yang luarbiasa juga mempunyai ketahanan mental dan emosi yang cukup tinggi.
Bagi setiap wanita yang bergelar isteri, yang bercita-cita untuk menjadi isteri yang solehah, sebaiknya mengukur kemampuan dan kesanggupan diri sendiri untuk memenuhi ciri-ciri yang dinyatakan tadi.

Jika belum mampu, pertingkatkan usaha. Menjadi seorang isteri merupakan anugerah yang cukup tinggi bagi seorang wanita. Memiliki suami umpama memiliki jambatan bonus untuk meniti ke syurga. Namun tanpa ketaatan terhadap suami umpama tidak menghargai peluang yang ada.
Mengenepikan suami atau menderhakai suami pula, umpama merobohkan jambatan tersebut dan memilih untuk berenang ke syurga. Arahnya sama, namun sayang kemudahan tiada. Isteri yang luarbiasa sahaja yang berjaya tiba ke syurga yang dijanjikan Allah padanya.

Syurga pula ganjaran tertinggi bagi hambaNya yang beriman dan bertaqwa. Apa yang perlu diingat selalu, sesuatu yang bernilai tinggi tidak diberi secara percuma juga tidak murah harga dan nilainya.

Info Penulis
Penulis merupakan kaunselor berdaftar di sebuah agensi kerajaan di Negeri Sarawak. Terlibat secara aktif dalam bidang kaunseling, terutamanya kaunseling perkahwinan.
- Artikel iluvislam.com

Abdul Rahman Auf Jutawan Yang Menangisi Kemewahan

Abdul Rahman Bin Auf bin Abdul Harith bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Kaab bin Luayyi Al Quraisyi Az Zuhri lahir 10 tahun selepas tahun gajah dan membesar sebagai seorang pemuda yang teguh peribadi dan memiliki karismatik yang berkualiti.
Beliau mendapat pendidikan awal dengan sifat berani, tegas, toleransi, zuhud dan dermawan. Selain menjadi ahli ekonomi yang berwibawa dan amanah, beliau merupakan antara sepuluh orang sahabat yang dijamin syurga dan salah seorang dari 6 anggota mesyuarat untuk memilih khalifah selepas wafatnya Al Farouk rha.
Beliau wafat pada tahun 31 hijriyyah dalam usia 73 tahun dan di maqamkan di Baqi'

Sebelum Islam
Menjauhi penyembahan berhala, maksiat dan mungkar.
Persekitaran hidup dalam keluarga mulia dan bermaruah.
Selepas Islam
Orang yang kelapan memeluk agama Islam.
Menyertai program perkaderan di Darul Arqam.
Melakukan hijrah ke Habsyah sebanyak dua kali dan akhirnya ke Madinah Al Munawwarah.
Menyertai semua peperangan yang disertai oleh Rasulullah

Jati Diri Yang Kental
Abdul Rahman bin Auf telah dipersaudarakan oleh Rasulullah saw dengan Saad Ibnu Rabi'e seorang bangsawan dan jutawan Madinah (Al Ansar). Namun beliau tidak mengambil kesempatan dan peluang untuk memboloti harta kekayaan saudaranya sekalipun beliau mendapat tawaran yang lumayan termasuklah memilih salah seorang daripada isteri saudaranya.

Sebaliknya beliau meminta Saad menunjukkan kepadanya dimanakah pasar dan beliau memulakan perniagaan dipasar tersebut dengan keringat dan semangat berdikari yang gigih.
Berdikari
Prinsip berdikari yang dimiliki oleh Abdur Rahman bin Auf menjadi formula asas kejayaan dan kecemerlangan beliau. Berdikari adalah tanda harga diri individu yang bermaruah dan bebas dari hidup bergantung dengan orang lain. Prinsip inilah juga yang diajar oleh Rasulullah saw. buat semua ummat bagi membina tamadun yang cemerlang.

Sabda Rasulullah saw.:
"Tiada sesuatu makanan yang baik melebihi apa yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Nabi Allah Daud makan dari hasil usahanya sendiri." - Riwayat Bukhari
Amanah
Kecemerlangan yang diperolehi dalam perniagaannya juga banyak bergantung kepada sifatnya yang amanah, sifat inilah meletakkan beliau sebagai usahawan yang berjaya dan beliau juga antara sahabat yang paling kaya di Madinah.
Rasulullah saw. pernah menyebut:
"Engkau adalah yang dipercaya(amanah) dikalangan penghuni langit dan engkau jugalah yang dipercaya (amanah) dikalangan penghuni bumi."

Taat
Peribadinya yang soleh dan taat kepada Allah swt pula menjadi modal utama yang menjana kemajuan gemilang dalam kerjayanya sebagai seorang ahli ekonomi dan usahawan. Peribadi ini diiktiraf oleh baginda Rasul saw dengan sabdanya:
"Tidak dicabut roh seseorang Nabi sehingga ia sembahyang di belakang seorang lelaki yang soleh dari ummatnya."

Pengurusan Ekonomi Berorientasikan Kebajikan
Kejayaan gemilang yang dicapai oleh Abdul Rahman bin Auf Rha. tidak menjadikan beliau lupa daratan dan menyeleweng dari manhaj Rabbani. Sebaliknya beliau menangani kekayaannya dengan menabur bakti kepada agama, perjuangan dan ummah.
Dikeluarkan oleh Abu Nuaim di dalam kitab Al Hilyah daripada Az Zuhri katanya:
"Abdul Rahman bin Auf telah bersedeqah di zaman Rasulullah saw. setengah dari hartanya yang berjumlah Empat Ribu Dirham kemudian beliau mengorbankan 40 Ribu Dirham, 500 kuda di jalan Allah swt. diikuti pula 1500 ekor unta di jalan Allah swt. Kesemua harta itu adalah hasil perniagaannya."

Dermawan
Sikap inilah (dermawan) yang dicerminkan oleh Al-Quranul Karim sebagai sikap orang–orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.
"Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebahagian dari apa yang kamu sayangi. Dan sesuatu apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (Surah Ali Imraan, 92)
Kikir dan bakhil adalah merupakan sifat tercela yang merosakkan hubungan damai dan harmoni sesama muslim.

"(Ingatlah), kamu ini adalah orang-orang yang bertabiat demikian-kamu diseru supaya menderma dan membelanjakan sedikit dari harta benda kamu pada jalan Allah, maka ada di antara kamu yang berlaku bakhil, padahal sesiapa yang berlaku bakhil maka sesungguhnya ia hanyalah berlaku bakhil kepada dirinya sendiri. Dan (ingatlah) Allah Maha kaya (tidak berhajat kepada sesuatupun), sedang kamu semua orang-orang miskin (yang sentiasa berhajat kepadaNya dalam segala hal). Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertaqwa dan berderma) Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu." (Surah Muhammad 38)
Sementara tamak haloba pula memusnahkan asas kebajikan malah mendorong permusuhan dan hasad dengki yang membantutkan perkembangan ekonomi ummah.

Membelanjakan Harta Demi Keredhoan Allah
Dikeluarkan oleh Ahmad daripada Anas rha. katanya: "Tatkala Aisyah rha. berada di dalam rumahnya, beliau telah mendengar satu suara di Madinah. Beliau bertanya "Apakah yang telah terjadi? Kaum muslimin menjawab: "Kafilah Abdul Rahman bin Auf terdiri dari 7 ratus unta."

Maka bergemalah Madinah dengan teriakan suara tersebut. Aisyah rha. berkata aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Aku melihat Abdul Rahman masuk kedalam syurga dengan merangkak. Apabila kata–kata nabi tersebut sampai ke pengetahuan Abdul Rahman bin Auf lalu beliau berkata: Jika aku mampu, aku akan masuk syurga itu dalam keadaan berdiri.

Lalu beliau menyerahkan kesemua unta tersebut di jalan Allah swt.
Dikeluarkan oleh Abu Nuaim di dalam kitabnya Al Hilyah.
Peristiwa ini jelas mengisyaratkan bahawa Abdul Rahman bin Auf sekalipun dilimpahi harta kekayaan dalam hidupnya tetapi tidak sampai ia menjadi hamba kepada harta, malah juga tidak mampu untuk melalaikan beliau daripada mengingati Allah swt.
Situasi ini menunjukkan beliau menguasai harta bukan harta menguasai beliau. Kedudukkan seperti inilah yang menjadikan seorang usahawan benar – benar merdeka dan bebas dari belenggu fikrah maadiyyah.

Bahaya Fikrah Maadiyaah (Kebendaan)
Pengidap faham maadiyyah ini sangat merbahaya dan membawa virus yang sangat sukar untuk dirawat. Mereka yang terpengaruh dengan faham maadiyyah hanya memikirkan soal dunia, duit dan hidup semata – mata.
Mereka tidak memikirkan bagaimana dosa, pahala, syurga, neraka dan akhirat. Ini menjadikan mereka petualang yang hanya mementingkan diri sendiri, kekayaan dan kemewahan dengan tidak memperduli bagaimana cara memperolehinya, samaada cara yang halal atau haram, baik atau buruk, hak atau bathil, adil atau zalim, benar atau bohong, amanah atau khianat.

Apa yang lebih parah, golongan ini akan menjadi cinta dunia dan benci kepada mati. Jika seorang usahawan bersikap seperti ini bukan sahaja tidak mendapat berkat dan rahmat dalam projek atau perniagaan mereka, malah mereka dimurkai oleh Allah swt.
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak menaruh ingatan akan menemui Kami (pada hari akhirat untuk menerima balasan), dan yang reda (berpuashati) dengan kehidupan dunia semata-mata serta merasa tenang tenteram dengannya, dan orang-orang yang tidak mengindahkan ayat-ayat (keterangan dan tanda-tanda kekuasasaan) Kami, -Mereka yang demikian keadaannya (di dunia), tempat kediaman mereka (di akhirat) ialah neraka; disebabkan keingkaran dan kederhakaan yang mereka telah lakukan." (Surah Yunus 7–8)
Renungi ungkapan ulama' sufi terkenal Abu Sulaiman Ad Darani:
Jika akhirat memenuhi ruang hati, maka dunia tetap datang mendampinginya, namun tatkala dunia yang memenuhi ruang hati, maka akhirat akan menyisih, kerana sesungguhnya akhirat adalah suatu yang mulia sedang dunia adalah suatu yang keji.

Material (Kebendaan) Menurut Perspektif Islam
Islam tidak melarang ummatnya mencari harta dan memiliki kekayaan, malah mengajar ummatnya mencari harta dengan kaedah yang betul. Lihat lah bagaimana sahabat karib Baginda Rasul saw. seperti Abdul Rahman bin Auf mencari harta dan memiliki kekayaan.
"Kemudian setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya / untung (di dunia dan di akhirat)." (Surah Al Jumua'h: 10)
Kebendaan merupakan sebahagian daripada alat kelengkapan dan berfungsi sebagai alat bantu kekuatan. Justeru itu Islam memberi ruang selesa kepada ummatnya berdikari dan mengusahakan hasil bumi.

Namun begitu, kebendaan yang diusahakan dan kekayaan yang dicita, bukan menjadi prinsip hidup yang mencetus faham kebendaan, segalanya sebagai sarana untuk menjulang syiar Agama Allah swt. bukan sebaliknya, iaitu menjadi hamba kepada benda dan kekayaan.
Kebendaan dan kekayaan diperlukan agar ummat Islam tidak bangsat dan hina di mata dunia, pula dalam masa yang sama, ia tidak sampai membawa ummat Islam keperingkat ego dan bongkak.

Usahawan Yang Takut Kepada Allah Dan Manangisi Kemewahan Dunia
Dikeluarkan oleh Abu Nuaim didalam kitab Al-Hilyah daripada Naufal bin Ilyas Al–Hazili katanya: Abdul Rahman bin Auf rha. sering duduk bersama–sama dengan kami. Beliau adalah sebaik–baik orang apabila duduk bersama–sama dengan kami, suatu hari beliau telah meninggalkan kami dan tidak bersua dengan kami lalu kami pun masuk menemuinya di rumahnya.
Beliau telah kembali ke rumahnya dan mandi, lalu kami menghidangkannya satu dulang roti dan daging. Apabila makanan tersebut dihidangkan dihadapannya, beliau pun menangis.

Kami bertanya kepadanya, "Wahai bapa Muhammad, apakah yang menyebabkan kamu menangis?"
Beliau menjawab: "Rasulullah saw. telah meninggal dunia dalam keadaan beliau dan ahli keluarga beliau tidak pernah kenyang dengan makanan yang terdiri dari roti gandum."
Aku berpendapat, kita ketinggalan kebelakang dari apa yang lebih baik bagi kita.
(Dikeluarkan oleh Tarmizi dan As Siraj daripada Naufal dan seumpama dengannya sebagaimana dalam Isobah.)

Kezuhudan Abdul Rahman bin Auf rha. ini sangat menyerlah, bukan sahaja melalui peribadi dan aksinya bahkan sikap dan prinsip beliau. Inilah yang menjadikan beliau sebagai seorang usahawan yang amat disenangi oleh penghuni dibumi dan juga penghuni dilangit. Beliau dijamin syurga oleh Baginda Rasul saw.

- Artikel iluvislam.com

Biodata Kolumnis
Ustaz Nasrudin Hassan merupakan graduan Usuluddin dari Universiti Al-Azhar, Mesir. Selain aktif dalam aktiviti kemasyarakatan, beliau kini merupakan Pengarah Akademi Ar-Rasyidin yang berpusat di Kuantan, Pahang. Blog episodeperjuangan.blogspot.com menjadi medium untuk beliau menulis di alam maya.